BALI, Balipolitika.com – Tawur Agung Kesanga, selain memiliki makna pembersihan alam semesta (bhuana agung & bhuana alit). Juga memiliki makna dalam tentang keseimbangan alam semesta dan isinya.
Konon kepercayaan selama ini, saat Sasih Kesanga, para bhuta kala keluar dan ngerebeda alias menggangu manusia.
Bhuta kala adalah sebuah konsep dalam Hindu, yang merujuk pada kekuatan alam yang tidak terlihat dan dapat menyebabkan kekacauan dan kesulitan. Bhuta Kala keluar saat Tawur Agung Kesanga karena beberapa alasan:
1. Keseimbangan Alam: Tawur Agung Kesanga adalah upacara untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan. Bhuta Kala keluar untuk mengganggu keseimbangan tersebut.
2. Pengaruh Perubahan Musim: Tawur Agung Kesanga biasanya pada saat perubahan musim, yang dapat memicu kekuatan alam yang tidak terlihat.
3. Pembersihan Diri: Upacara Tawur Agung Kesanga juga bertujuan membersihkan diri dari segala kekotoran dan kesalahan. Bhuta Kala keluar untuk menguji kesucian dan ketulusan umat.
4. Penghormatan kepada Dewa: Bhuta Kala juga sebagai manifestasi dari kekuatan dewa yang tidak terlihat.
Cara Menghadapi Bhuta Kala saat Tawur Agung Kesanga
1. Membuat Ogoh-ogoh: Umat Hindu membuat ogoh-ogoh yang melambangkan Bhuta Kala untuk di arak keliling desa dan kemudian di bakar.
2. Membacakan Mantra: Umat Hindu membacakan mantra untuk mengusir Bhuta Kala dan menjaga keseimbangan alam.
3. Melakukan Persembahan: Umat Hindu melakukan persembahan kepada dewa-dewa dan Bhuta Kala untuk memohon perlindungan dan keselamatan.
Tawur Agung Kesanga adalah sebuah upacara keagamaan Hindu khususnya di Bali, Indonesia. Upacara ini merupakan bagian dari rangkaian upacara Galungan dan setiap 210 hari, atau sekitar 6 bulan sekali.
Makna Tawur Agung Kesanga
1. Pembersihan: Tawur Agung Kesanga bertujuan membersihkan diri dari segala kekotoran dan kesalahan yang telah dilakukan.
2. Penghormatan: Upacara ini juga merupakan penghormatan kepada para dewa dan leluhur yang telah memberikan kehidupan dan keselamatan.
3. Keseimbangan: Tawur Agung Kesanga juga bertujuan menjaga keseimbangan alam dan kehidupan, serta untuk menghindari bencana dan kesulitan.
4. Pengampunan: Upacara ini juga merupakan kesempatan untuk memohon pengampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan.
Pelaksanaan Tawur Agung Kesanga
1. Pembuatan Sesaji: Umat Hindu membuat sesaji (persembahan) yang terdiri dari makanan, buah-buahan, dan bunga-bunga.
2. Pembersihan Lingkungan: Umat Hindu membersihkan lingkungan sekitar, termasuk rumah, jalan, dan tempat-tempat suci.
3. Upacara di Pura: Umat Hindu melakukan upacara di pura (tempat suci) dengan membacakan mantra, melakukan persembahan, dan memohon pengampunan.
4. Pembakaran Ogoh-ogoh: Pada malam hari, umat Hindu membakar ogoh-ogoh (patung yang terbuat dari bambu dan kertas) yang melambangkan kejahatan dan kesalahan dan disomia alias pengembalian ke asalnya. (BP/OKA)