Chris Triwarseno:
Kebun Mawar di Taman Langit
doa-doa ini mungkin kuncup
kelak semerbak meratus usiamu
pada senyummu yang rekah
aku adalah kelopak mawar
yang mengirim wewangian
kepada pemilik kebun mawar
di taman-taman langit
burung-burung hinggap
dan bersiul di batang mawar
menirukan doa-doa itu
aku melihatmu bersutera hijau
duduk bersamaku di bangku indah
Ungaran, Desember 2024
Senyum Hujan
dalam penantian, mungkin kita adalah rerumputan
yang tak henti menunggu senyum hujan
dalam pengharapan, mungkin kita adalah telaga
yang tak henti menunggu bisik rerumputan
dalam perjumpaan, mungkin kita adalah mendung
yang tak henti menyapa riak telaga
di kursi ini aku terdiam: tanpa senyum, bisik, dan sapa
kau telah merupa rerumputan, telaga, dan mendung
dengannya aku tak henti merindukanmu
di setiap penantian, pengharapan, dan perjumpaan
di tengah hujan, tak henti kau tersenyum, berbisik, dan menyapaku
— yang selalu melupakanmu
Ungaran, Desember 2024
………………
Thomas Elisa:
Hosti
Lagi-lagi tubuh(mu) kembali telanjang
Padahal tak ada sehelai kain pun yang kami siapkan
Malahan di tangan kami telah berhimpun
Rajam bebatuan, penipuan, dan manipulasi mengerikan
Yang pada akhirnya kami timpakan secara cuma-cuma
Pada tubuh(mu) yang mengalir darah daging penuh wangi
Berkali-kali, kami cabik tubuh(mu) tanpa malu
Memakannya sebagai kurban yang tak pernah selesai
Bila belum puas kami minum pula darah dari daging(mu)
Sebagai penutup jamuan yang paling menentramkan
Tuan, maafkan, segala kebiasan buruk kami
Yang tanpa malu memecah-mecah tubuh(mu)
Sebab kami sudah buta dan tak tahu lagi
Jalan mencapai negeri Firdaus terjanji
Surakarta, 2024
Terompet Akhir Tahun
Aku menyebutnya terompet akhir tahun
Karna ayah membelinya di pengujung Desember
Diantara kecipak malam dan kidung gerimis
Ayah berlari melawan arah angin di ujung trotoar
Demi tangis serakku agar segera mereda
“Setelah kau tiup terompet maka kamu akan bergembira”’ kata ayah
Aku berteriak riang sambil membunyikan terompet keras-keras
Lantas aku berlarian mengelilingi malam yang berbentuk labirin
Mengisi lengang kota yang ditidurkan dalam pelupuk hujan
Malam yang memberat terperangkap di terompetku
Dengan riang kuninabobokkan gelap di tempat tidurku
“Terompet benar-benar membawa kegembiran” gumamku
Sayup-sayup sebelum kelopak bening mataku mengatup
Kudengar ayah berbisik lirih kepada ibu:
“Uang terakhir yang kita miliki telah kubelikan terompet”
Surakarta, 2024
Soe Hok Gie
Seperti monumen dari bebatuan
Kau kukuh mengekal di ingatan
Pikiranmu yang tak pernah lusuh
Mengupas kulit-kulit kasar kedunguan
Senyum pucatmu adalah sembilu menakutkan
Bagi mereka yang duduk di kursi singgasana
Tak terasa sudah setengah abad saja
Sejak nafas semeru menidurkan peluhmu
Bersama tembang angin malam yang menentramkan
Namun masih saja, dari beranda kecilku
Suaramu melambai, diantara tawa penipu
Yang diam-diam ingin meracuni kawan sebangsanya
Sekarang aku dan sekalian kecil orang menjadi tahu
Bahwa setiap gulma yang mencoba mematikan akar
Tak akan bertahan lama sebab semesta selalu menyimpan
Sekawanan pelatuk untuk mengakhiri siklus kematian
Surakarta, 2024
……………………..
Yosep Herlambang:
Guru Ngaji Kami
Wajahnya selalu murung seperti situasi bukit
Tempat menanam jagung dan singkong
Tubuhnya tinggi kurus melengkung seperti kelapa
Rumahnya bilik bambu di atas bukit
Di sebelah depan rumahnya kandang domba milik tetangga
Bau dan mengiang nyamuk kalau sore
Tanpa gaji dan seragam
Sehari-harinya bersarung dan berkemeja lusuh
Tanpa sebutan pak ustad atau guru
Cukup uwak saja
Tanpa penghormatan atau pun keistimewaan
Orang-orang kampung kami memperlakukannya seperti
Kepada petani biasa saja
Sore itu matahari bersandar di atas pohon yang tinggi
Seperti kobaran api yang besar sekali
Merah tua dan menakutkan
Tandanya berangkat ngaji
Kami menaiki jalan setapak yang licin seperti ular
Di kanan kiri singkong dan pepohonn
Ilalang dan babadotan
Sampai di rumahnya kami naik pintu setinggi pinggang
Selesai sholat kemudian mengaji
Rumah diterangi lampu melek kecil
Di sinilah kehebatan guru ngaji kami
Biar ruang terang-terang tanah tapi matanya awas
Dan biar pun tak digaji tapi, semangatnya menggelegak
Kami semua santri berkeringat takut
Tak ada yang berani menatap wajahnya
Layang-Layang
Layang-layang
Terkatung di awang-awang
Di kiri angin di kanan angin
Tak ada ranting yang ingin
Dijadikan pegangan
Ada juga awan
Tak bisa sangkutkan benang
Layang-layang
Terkatung di awang-awang
Putus benang
Dipotong gelasan
BIODATA
Chris Triwarseno, buku antologi puisi tunggalnya berjudul Staycation Sepasang Puisi (2024), Sebilah Lidah (2023) dan Bait-bait Pujangga Sepi (2022).
Thomas Elisa, lahir di Surakarta, 21 September 1996. Puisi-puisinya dimuat di media cetak dan online. Puisinya juga masuk masuk dalam antologi 100 tahun Ch. Anwar (2023).
Yosep Herlambang lahir di Sukabumi, 11 Agustus 1973. Puisi-puisinya dimuat di beberapa media online.