MATAHARI SORE menembus celah-celah pepohonan di Pemakaman Umum Kebon Jambe, menyinari deretan makam yang tak bernama. Di antara makam-makam itu, satu makam terlihat menonjol karena kesederhanaannya.
Tak ada batu besar atau ukiran rumit yang menghiasi, hanya sebuah batu nisan keramik yang kini menandai tempat peristirahatan terakhir Mbah Bendera bin Adam. Pada batu nisan itu, terpampang bendera merah putih dengan tulisan yang tegas, “Perjuangan Belum Selesai Sampai Kau Isi Kemerdekaan Dengan Karya Nyata.” Tak banyak yang tahu siapa sebenarnya Mbah Bendera.
Sewaktu kecil aku sering mendengar nama itu dari nenek buyut. Setiap kali aku datang ke rumahnya dalam keadaan menangis karena gara-gara berkelahi dengan teman, nenek buyut selalu mengatakan masa keturunan Mbah Bendera pemegang panji Perang Jawa cengeng.
Saat itu aku tidak mempedulikan omongan nenek buyut, lagian mana mungkin anak sekecil itu paham apa itu Perang Jawa. Dunianya ya hanya sebatas main, mandi di sungai, bermain sepak bola.
Jujur aku menyesal, sebab hingga nenek buyut kembali kepada pangkuan pencipta, aku tidak pernah sekalipun menanyakan kepadanya secara jelas siapa Mbah Bendera. Alhasil aku pun tidak tahu nama sebenarnya Mbah Bendera.
Lalu bagaimana dengan kakekku dan ibuku, apakah aku tidak pernah menanyakan kepada mereka? Kakek meninggal di usia muda. Sementara ibuku hanya menjawab bahwa Mbah Bendera adalah leluhur kami yang pernah ikut dalam Perang Jawa dan menjadi pemegang bendera Perang Jawa, hanya sebatas itu yang ibuku tahu.
Kedatanganku ke makam Mbah Bendera bukan tanpa sebab, sebab akhir-akhir ini datang ke dalam mimpiku. Laki-laki kurus, dengan destar hitam melilit kepalanya, dadanya terbuka, dan celana hitam yang hanya sampai bawah lutut. Sebuah kain hitam putih melilit rapi di pinggang, tempat sebuah keris terselip.
Aku pikir itu Mbah Bendera, sebab laki-laki tersebut terdapat smile line (garis senyum di pipi), sebuah ciri khas dari keluarga besar kami. Selain itu keris yang ia bawa adalah keris pusaka turun temurun keluarga besar kami. Atas dasar itulah aku yakin bahwa itulah Mbah Bendera.
“Kamu jarang kirim al-fatihah ke leluhur,” ujar ibuku saat aku telepon.
“Ah, nggak bu, aku setiap malam sebelum tidur selalu mengirimkan alfatihah ke para leluhur.”
“Barangkali kamu suruh datang ke makamnya, kamu sudah lama sekali nggak pulang
kampung,” kata ibu.
“Sudah yah bu, aku mau berangkat kerja dulu. Nanti aku akan ambil cuti dari kantor.”
Sehari-hari aku bekerja menjadi jurnalis di sebuah media yang terletak di Jakarta Pusat. Jurnalis memang tak tentu kerjanya, hari itu aku berangkat siang, setelah Dzuhur.
Media tempatku bekerja unik, berbeda dari kebanyakan media pada umumnya. Keunikan tersebut mungkin karena faktor terafiliasi dengan organisasi keagamaan. Hampir 90 persen krunya diisi oleh anak kiai, ada anak kiai dari Cirebon, Brebes, Semarang, Magelang, Bekasi. Hal inilah yang membuat temanku yang bekerja di media mainstream keheranan.
“Kok kamu bisa masuk ke media tersebut, kamu ini kan bukan anak kiai, bukan santri pula,” ujar Icus suatu ketika.
“Jangan salah, meskipun gua bukan anak kiai. Begini-begini gua ini pernah nyantri selama tiga tahun, meskipun di pondok gua lebih banyak tidur sih.”
“Tetapi nyaman kan di sana? Gaji aman?” tanya Icus nyerocos sambil makan.
“Ya begitulah,” ujarku tertawa.
“Gajinya ya gaji khidmat,” imbuhku.
Ya, memang sebagian orang di sana tidak suka terhadap diriku. Beberapa kali aku dicari kesalahannya. Kesalahan yang terkesan diada-adakan. Namun, lagi-lagi aku masih aman. Tetapi siang itu lain, aku dipanggil oleh Pimred, Laniv namanya. Aku dipecat. Masih mending dipecat kalau dapat pesangon. Lah ini boro-boro dapat pesangon, gaji hanya dibayarkan separuh. Tetapi aku tidak bisa protes, sebab memang tidak ada hitam di atas putih.
Seketika itu juga aku langsung membereskan barang-barangku di kantor. Tetapi itu bukan persoalan, persoalannya adalah saat sedang membereskan barang-barang itulah. Beberapa orang di sana termasuk Laniv mengolok-olok diriku. Diriku yang tak punya ijazah sarjana. Aku tidak masalah dengan ejekan itu, yang menjadi masalah Laniv dan yang lain mengolok-olok keluargaku sebagai penganut ilmu hitam.
Ingin aku marah, tetapi nuraniku mengatakan lebih baik diam. Sebab dengan diam, setidaknya bisa menyelamatkan dari kemungkinan terburuk. Malam itu juga aku pulang ke kampung, dengan tujuan menenangkan pikiran.
Sebelum aku berziarah ke Mbah Bendera, siang harinya aku berkunjung ke rumah Mbah So, adik dari kakekku. Tanpa aku minta dia menceritakan tentang Mbah Bendera. Sebuah cerita yang aku dengar setiap kali berkunjung ke rumahnya.
“Mbah Bendera, bukanlah nama asli. Itu hanyalah julukan yang diberikan oleh Pangeran Diponegoro, yang pada masa itu dikenal dengan nama kecilnya, Raden Mas Ontowiryo. Sejak kecil ia telah dititipkan oleh orang tuanya untuk nyantri kepada Pangeran Diponegoro,” ujarnya.
Mbah So dengan pembawaan tenang dan suara halus menceritakan bahwa di bawah bimbingan pangeran yang kelak menjadi pemimpin perang terbesar di Jawa, Bendera tumbuh menjadi seorang pemuda yang tubuhnya tidak terlalu besar, namun lincah dan gesit. Kemampuan Bendera dalam bertarung serta bertahan hidup dalam kondisi sulit membuatnya dipercaya untuk membawa panji perang.
Dia menggambarkan sosok Bendera sebagai pemuda kurus berusia dua puluhan, dengan destar hitam melilit kepalanya, dada terbuka, dan mengenakan celana hitam sebatas lutut, serta kain hitam putih melilit rapi di pinggang, tempat keris terselip. Setiap kali pasukan Diponegoro bergerak, panji itu selalu berkibar di tangan Bendera, memberikan semangat dan harapan bagi prajurit-prajurit yang siap mengorbankan nyawa demi kebebasan.
“Namun, di setiap perang, ada masa ketika harapan itu dihadapkan pada kenyataan pahit. Ketika Pangeran Diponegoro ditangkap di Magelang oleh tipu daya Belanda, Mbah Bendera tidak ada di sana. Tidak ada yang tahu mengapa dia tak ikut dalam rombongan itu. Mungkin takdir Tuhan yang membuatnya terpisah dari sang pangeran pada saat-saat terakhir itu. Setelah Diponegoro diasingkan, banyak pengikutnya tercerai-berai, termasuk Mbah Bendera yang akhirnya menyingkir ke pedalaman Jawa Tengah,” lanjutnya.
Mbah So menceritakan bahwa Desa Jejeg, yang terletak di kaki Gunung Slamet, menjadi tempat terakhir bagi Mbah Bendera. Di desa itu, Bendera tidak lagi mengibarkan panji perang. Meski tugasnya sebagai pejuang telah selesai, pengabdiannya kepada masyarakat belum berakhir.
Ia menemukan peran baru sebagai tabib, menggunakan pengetahuan yang mungkin dia pelajari saat berguru dengan Diponegoro, untuk mengobati masyarakat yang sakit dengan ilmu-ilmu tradisional. Penduduk desa tetap memanggilnya Bendera, meskipun mereka tidak mengetahui sejarah panjang di balik julukan itu. Meskipun kehidupannya kini jauh dari medan perang, semangat perjuangan tetap menyala dalam dirinya.
Dalam kesederhanaannya, Bendera sering menyampaikan kepada siapa pun yang datang padanya bahwa perjuangan tidak pernah selesai. Namun, perjuangan yang ia maksud bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan ketidakpedulian, kemalasan, dan ketidakadilan yang masih terjadi di sekelilingnya.
Di desa itu, ia hidup hingga usia senja, tanpa pernah meminta lebih dari kehidupan. Bendera tidak pernah mengharapkan penghargaan atau pujian atas jasa-jasanya. Baginya, berjuang adalah panggilan jiwa, bukan untuk kehormatan, melainkan demi rakyat yang membutuhkan, baik di masa perang maupun damai. Tahun-tahun pun berlalu, dan akhirnya Mbah Bendera meninggal, kata Mbah So mengakhiri ceritanya.
“Kamu tahu tidak, kalau Mbah Bendera sampai sekarang masih mendatangi keturunannya. Mungkin bagi kamu yang hidup di Jakarta, bergaul dengan orang-orang modern, ini terasa aneh,” kata Mbah So.
“Untuk apa?,” tanyaku.
“Memberikan isyarat atau pertanda kalau akan ada yang memusuhi keturunannya, dengan kata lain melindungi keturunannya.”
“Melalui mimpi?” tanyaku lagi.
“Bisa iya, bisa perwujudan langsung.”
“Di tangan keturunannya, tanah kuburannya bisa dijadikan senjata mematikan,” pungkasnya.
Aku pun kembali mengingat-ingat kejadian semalam di terminal bus, seorang pengemis tua menghampiri diriku. Kemudian mengatakan “Ambilah tanah di kuburan Mbah Bendera, taburkan di rumah yang menyakiti dirimu.”
Ketika kembali ke Jakarta seminggu kemudian, aku membawa tanah itu. Apakah tanah itu akan aku gunakan? Lihat saja nanti.
BIODATA
Malik Ibnu Zaman, kelahiran Tegal Jawa Tengah. Malik menulis sejumlah cerpen, puisi, resensi, dan esai yang tersebar di beberapa media online. Kini sedang menempuh studi di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Pamulang.