Siapa yang Menjawab?
Jari-jari terpeleset buat negeriku gaduh
Hiruk pikuknya buat benangnya semakin kusut
Desas-desus berakhir menghunus
Desah-desah berakhir gelisah
Siapa yang mau tanggung jawab bila sudah begini?
Jari-jari terpeleset buat negeriku semakin riuh
Hiruk pikuknya buatku semakin kikuk
Upah buruh jadi gemuruh
Sang berpengaruh disebut-sebut jadi pesuruh
Siapa lagi yang tanggung jawab bila sudah begini?
Lalu, semua pergi,
Bersembunyi sambil mengintip
Ada yang menunggu kutip
Adapula yang menanti tip
Tap tap tap ini mantap, bagikan!
Tap tap tap ini konon sebab, bagikan!
Tap, tap, tap, tapi, aku ditangkap!
Tolong, tolong jangan kasi ungkap!
Ah..lupakan, kamu harus tahu
Suatu pagi di tengah minggu
Ada dua pahlawan yang tengah beradu layaknya serdadu
Dengan teriakan yang tak merdu, keduanya berebut dadu
Dadu kesejahteraan untuk kami para perut lapar
Dar Dur Dar gas air mata
Buat kata-kata jadi terbata!
Dar Dur Dar lemparan bata
Buat cerita berakhir derita!
Siapa lagi yang tanggung jawab bila sudah begini?
Asa Telaga Keramat
Di Telaga Biru, mekar teratai
Umat memandang mekarnya
Harumnya jadi irama cerita
Tentang telaga keramat itu
Dewi Gangga berstana,
Mengalirkan kasih lewat riak gelombangnya
Riak yang terjaga, menyambung asa petani perkasa,
Menyambung asa masa manusia,
Menyambung asa semesta yang Esa
Jangan berisik dekat telaga
Sebab mengusik telaga berarti petaka
Bertahun berlalu
Petaka yang kusangsikan kini kusaksikan
Teratainya menguning
Riaknya tak lagi hening
Gelombangnya tak lagi bening
Manusia sibuk membabat hingga tak sadar menyumbat
Manusia sibuk berdebat hingga tak sempat selamat
Tercemar kekeringan banjir
Telaga keramat lalu mengutuk umat
Telaga keramat tak lagi memberi nikmat
Telaga keramat tak dijaga dengan hikmat
Saudaraku
Mari kembali mendekap telaga biru yang lama tak disua
Memberi hormat dengan menganggap keramat
Menjaganya
Agar nikmat dari riaknya anugerah Dewi Gangga,
tetap bisa menyambung asa
Tumpek Wariga
Saniscara Tumpek Wariga
Dewa Sangkara pancarkan sinar sakral
Asap dupa semerbak
Muncul dari tiap belukar
Aku membawa sebuah canang,
Berjalan ke barat laut bersujud di sebelahMu
Om Sankarartha pura devi
Enam bulan sekali
Kami memperingati jasamu
Segala yang berdaun disucikan
Segala yang berdaun ditempatkan pada kesakralan
Ia diberi tempat yang maha utama
Karena menjadi nafas keramat dalam tiap putaran bumi
Ya, pepohonan memang keramat
Kata moyangku kalau ia sampai dibabat
Bencana akan hebat
Kalau ia tak dijaga dengan khusuk
Kemungkinan buruk bisa menusuk
Berabad berlalu
Kata itu kembali kudengar seperti kutukan
Sebagian dari kita hampir kiamat
Saat keramat yang tak dijaga dengan hikmat
Pepohonan di depan mata dihabisi
Tanah dilapisi akar diganti besi
Tak dapat tumbuh
Digilas ambisi kontrasepsi
Lebih bengis
paru-paru bumi ikut diberangus
Banjir mata air menggilas pemukiman
Anak tua menjerit kehilangan
Menjerit kelaparan
Menangis sesenggukan
Terombang-abing di atas kursi beludru
Beberapa minggu menjelang Tumpek Wariga
Sebagian dari kami kebingungan
Pohon-pohon di barat laut
Telah ditumbuhi puluhan rumah
Tak mau dikutuk lagi
Kami semai bibit berwadah beton
Kami panjatkan syukur
Kembali menjagamu dalam khusuk
Wanita: Sakti
Wanita Bali, tak pernah bernanah, sakti!
Berbekal pisau, membangun peradaban tetap berdaya,
membangun peradaban tetap berbudaya
Berbekal pisau membangun harapan dalam-dalam di tiap doa,
membangun harapan dalam-dalam di tiap usaha
Berkah, adalah lekukan tiap pisau
Berkah, adalah lengkapnya doa penghalau risau
Berkah, adalah anugerah penghalang resah
Biar istana berlapis emas,
Gubuk berteduh jerami,
Pisaunya tetap melekuk
Doanya tetap sama
Mengapung dalam
Tak pernah tenggelam
Cerita Singkat di Seberang Ruang Isolasi
Suara nafasnya terdengar berlari
Jerit tangis anak kecil menahan pilu
Kudengar ia berceletuk,
Seperti sesuatu merobek tenggorokannya
Padahal aku berada sangat jauh
Jauh seperti di seberang pulau
Tapi pilunya seperti meraba-raba
Sangat dekat ikut menyiksa batinku,
Suaranya merobek
sorak-sorak ketiadaan
Pada mereka yang masih berani
menantang pilu
BIODATA
Desak Made Yunda Ariesta adalah seorang pegiat literasi dan jurnalis yang berbasis di Karangasem, Bali. Lahir di Klungkung pada 7 April 1995, Yunda begitu sapaan akrabnya, merupakan alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Terbuka yang menghabiskan kesehariannya berkutat dengan kata dan berita.
Pengalamannya di dunia jurnalistik cukup panjang, mulai dari tabloid hingga menjadi kontributor untuk MNC Media (iNews TV, GTV, RCTI, MNC TV). Dunia jurnalistik menempa Yunda untuk melihat realitas dengan mata tajam, sementara puisi menjadi ruang baginya untuk merayakan keindahan dari realitas tersebut.
Kecintaannya pada sastra, khususnya puisi dan seni tutur, telah membawanya meraih berbagai apresiasi, di antaranya: Juara 1 Lomba Baca Puisi Tingkat Nasional Gatra Sastra Lumajang (2020) & FEB Universitas Airlangga (2020). Juara 1 Lomba Cipta Baca Puisi Hari Air Dunia (2021 & 2022). Juara 2 Lomba Menulis Berita Feature Tingkat Nasional (2016). Dan menjadi peserta terbaik dalam ajang Mobile Journalism (MoJoc) iNews TV.













