BALI, Balipolitika.com – Ada hal menarik dari lontar Sundarigama, karena mempertegas hari suci Banyupinaruh yang jatuh pada Minggu Paing Sinta sebagai bagian dari hari suci Saraswati, yang jatuh pada Sabtu Umanis Watugunung.
“Ada kemungkinan kita dapat menarik makna lebih dalam, bilamana kita melihat keterkaitan yang ada di antara hari hari suci ini,” jelas I Nyoman Suarka, Koordinator Alih Aksara Alih Bahasa dan Kajian Lontar Sundarigama.
Bukan saja keterkaitan hari suci Saraswati dengan Banyupinaruh, tetapi juga keterkaitan dengan hari suci Soma Ribek, Sabuh Mas, dan Pagerwesi.
“Jika kita dapat memandang perayaan hari suci itu sebagi simbol aktivitas budaya,” kata guru besar Fakultas Sastra Unud ini.
Atau sistem kepercayaan sebagai bagian integral dari cara manusia mengungkapkan ide, gagasan, dan pikirannya dalam kehidupan ini.
Maka peringatan hari suci Saraswati, Banyupinaruh, Soma Ribek Sabuh Mas, dan Pagerwesi yang secara berurutan mengandung makna.
Pertama-tama umat Hindu memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, agar kebodohan hilang dan karunia ilmu pengetahuan (guna), ketrampilan (gina), dan kesusilaan (susila) turun.
Lalu setelah berhasil mencapai pengetahuan, ketrampilan, dan budi pekerti yang luhur. Kemudian umat Hindu merayakan keberhasilannya melalui peringatan hari suci Banyupinaruh.
“Ibarat kata wisuda di sekolah ataupun di perguruan tinggi,” jelasnya. Lalu dengan telah wisuda, itu berarti bahwa umat Hindu telah selesai menempuh dan menyelesaikan pendidikan. Sehingga bisa mendapatkan ijazah.
Kemudian dengan berbekal pengetahuan, ketrampilan, budi pekerti luhur, dan ijazah inilah. Umat Hindu kemudian mencari pekerjaan yang baik dan layak untuk mendapatkan nafkah. Guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tentu saja nafkah yang paling penting adalah pangan. Untuk itu, hal ini simbolnya dengan hari raya atau hari suci Soma Ribek. Sebagai pemujaan Bhatara Manik Galih atau dewa beras (dewa pangan).
“Kiranya umat Hindu menyadari bahwa dalam kehidupannya ini, mereka juga membutuhkan sarana yang lain. Yaitu sandang dan papan,” imbuhnya.
Sehingga adalah peringatan Sabuh Mas sebagai pemujaan Bhatara Mahadewa lambang simbol kekayaan.
Setelah itu, apa yang berhasil teraih bagi umat Hindu, jangan lupa bersukur, menjaga, melindungi, memagari dengan baik dan sekuat-kuatnya.
Ibarat pagar besi, dengan memohon kekuatan perlindungan kepada Sang Hyang Pramesti Guru. Maka hal itu simbol dengan hari raya Pagerwesi.
Hingga nanti menyambut hari suci Galungan dan Kuningan. Demikianlah jika hari suci umat Hindu berdasarkan pawukon atau wuku. (BP/OKA)










