DENPASAR, Balipolitika.com- Banyak orang menduga bahwa nama “Serangan” berkaitan erat dengan strategi perang atau serbuan militer. Namun, fakta sejarah justru berkata lain. Nama wilayah ini berakar dari frasa puitis “Sire” yang berarti sosok tersebut, dan “Angen” yang bermakna sayang, rindu, atau takjub.
Alkisah, seorang pendeta suci dari Jawa yang tengah melakukan perjalanan spiritual ke Bali terpana melihat daratan kecil ini dari kejauhan. Rasa kasih sayang dan ketakjuban yang meluap membuat beliau menyebut tempat ini sebagai Sire Angen atau tempat yang menyentuh hati. Seiring berjalannya waktu, lidah masyarakat lokal menggeser pengucapannya menjadi “Sirangan”, hingga akhirnya abadi menjadi Serangan yang kita kenal sekarang.
Membahas sejarah Pulau Serangan mustahil tanpa menyebut Pura Sakenan yang legendaris. Dibangun oleh Mpu Kuturan pada abad ke-10, pura ini adalah denyut nadi spiritualitas Bali. Di masa lalu, umat harus berjuang menerjang ombak dengan perahu kayu atau menunggu air surut demi mencapai pura ini—sebuah tantangan fisik yang justru memperkuat nilai ketulusan dalam beribadah.
Namun, keunikan Serangan tidak berhenti di situs Hindu. Di pulau ini, Islam tumbuh subur melalui kedatangan nelayan Bugis-Makassar sejak abad ke-17. Sebagai bentuk penghargaan, Raja Badung memberikan lahan yang kini menjadi Kampung Bugis. Di sini berdiri Masjid As-Syuhada yang ikonik, lengkap dengan mimbar khas Bugis dan Al-Qur’an kuno berusia ratusan tahun. Keberadaan Rumah Adat Bugis yang tersisa menjadi saksi bisu betapa kentalnya asimilasi budaya di pulau ini.
Transformasi Pulau Nelayan Menjadi Kawasan Strategis
Selama berabad-abad, Serangan merupakan rumah bagi komunitas yang hidup selaras dengan laut. Warga menjadi garda terdepan pelindung ekosistem penyu yang menjadi ikon kebanggaan. Namun, wajah pulau berubah drastis pada akhir 1990-an akibat proyek reklamasi yang memperluas daratan dan menghadirkan jembatan penghubung.
Meskipun akses kini sangat mudah, transisi dari transportasi laut (Jukung) ke kendaraan darat membawa tantangan tersendiri dalam menjaga orisinalitas tradisi. Beruntung, semangat menjaga warisan tetap kuat. Konflik lahan yang sempat mengancam situs sejarah, termasuk Rumah Adat Bugis, perlahan mulai teratasi demi menetapkan kawasan ini sebagai Cagar Budaya.
Serangan Hari Ini: Edukasi dan Bahari
Kini, Serangan tumbuh menjadi kawasan strategis di Denpasar Selatan yang menawarkan paket lengkap. Anda bisa belajar tentang konservasi penyu, menyusuri ekowisata mangrove, hingga mencicipi kuliner laut seperti ikan bakar dan rujak bulung yang menggugah selera.
Memahami sejarah Pulau Serangan menyadarkan kita bahwa setiap langkah di tanah ini adalah bagian dari kekaguman masa lalu. Nama pulau ini adalah simbol cinta seorang pengembara suci terhadap keindahan Bali yang tak lekang oleh waktu, sekaligus bukti bahwa perbedaan budaya bisa hidup berdampingan di bawah naungan rasa sayang yang sama. (BP/CHA).













