Ilustrasi: M. Kholilullah
Ahmad Muzanni
Mawar Puisi
Aku takut membawanya
Ke tangan seorang penyair
Ketika ia kering
Ketika ia banal
Ketika ia gugur
Ketika ia kusut
Ketika ia kehilangan warna
Dan ketika ia tak utuh lagi
Seperti aku tak sopan
Memberimu setangkai mawar
Yang sudah jatuh
Dari tangan seorang
Pemuda yang putus cinta
Jatisela, 2024
Aku Rumput
Di depan rumahmu
Aku seperti rumput liar
Di antara tanaman hiasmu
Kau berpikir aku akan merusak
Bunga-bunga yang setiap hari kau sirami
Dengan tangan-tangan kasihmu
Sampai seorang Pengarit datang
Menyiangi keberadaanku:
Aku yang hidup dari hujan,
Bumi yang kau pijak
Tak pernah menolakku sebagai rumput
Dan hujan tak pernah pilih kasih
Memberiku air yang memanjangkan nyawaku
Sampai di depan rumahmu.
Jatisela, 2024
Daun Kita
Di tangkai ini kita bertahan
Dari derasnya angin
Dan dari derasnya hujan
Yang dikirim langit
Untuk kita hadapi
Dan jika suatu saat
Kita terjatuh
Ada tangan yang siap memungut
Dan mengumpulkan kita sesama daun
Setelah kita melahirkan
Buah merah untuk tangan-tangan mereka
Yang diulurkan setiap musim
Jatisela, 2024
Artummi Sasih
sore yang lain
ke barat dari biloq songkang
aku pulang ke alamat paling jauh sore ini
tak ada nama-nama kekasihmu di sini
tak ada ida. tak ada bebedag bekerja
titik teduh. titik di mana suara angin membawa kabar pantai yang jauh
kubawa rindu
juga cinta yang selalu kukhawatirkan sebelum ini
di luar ini
di selatan dengan kota kusam dan matahari hitam
di hadapan bebedag dan nama-nama lainnya
fatimah di halaman rumah
masih seperti kemarin
tak jemu dilalui waktu
tabah menetapi kesetiaan. lebih setia dari nama-nama yang kau minta-minta supaya menyerahkan cinta
di matanya yang basah oleh kisah, aku ingin berlama-lama, lebih lama dari pulang
lebih dingin dari cinta
aku mesti tabah menerima
apa yang lebih dingin dari cinta di bawah bayang nama-nama
tak bisa ditolak sebagaimana tebasan talak
satu kibasan
bukan berkali tusukan
lebih hitam dari pikiran
lebih tiba-tiba dari sebuah kehilangan di jalan lurus menuju rumahmu
ini bukan bagian dari soal kalah-menang yang membabibuta dalam dirimu
ini hanya tanda dari sebuah makna yang luput olehmu
setibaku
nama-nama itu memandangiku
seperti memberi isyarat bahwa aku terlambat menyadari keberadaan mereka
sungguh aku hilang daya setelah tiba
terlanjur tak melibatkan banyak nama
tak mungkin bisa menjawab pertanyaan yang muncul kemudian
tak mungkin bisa membuktikan hal-hal lain di luar yang pernah kita bincangkan
di pelukanmu, aku hanya bisa tabah menerima pertaruhan ini
————————
Emce Sumirat
Jika Puisi Harus Kutulis
Engkaulah yang pertama kali kusebut
Benih doa tak henti merapal sebuah nama
Pada tiap orang yang kujumpa
Hingga kau pun bisa membacanya
Sebagai ingatan yang telah terjaga
Dari penantian panjang tak kunjung jawaban
Selain runcing pertanyaan menikamkan kenyerian
Pada seluruh keinginan
2024
Malam Jumat
Surat Yasin yang dikirim darimu
Kini jadi baju rindu ketelanjanganku
Sebab saat dulu kita asyik berdua di atas ranjang
Kuburan tak pernah sayang dengan berupa ancaman
2024
Meluruskan Meja Makan
Kau saksikan sendiri diriku dalam doa
Rumahmu dari segala kenyerianku
Hingga dosa bukan lagi barikade dapur pertempuran
Yang cuma menghidupkan kematian
Tapi semata peta menyembunyikan kerinduan
Pada lezat hidangan berseliweran di depan
Lewat kubur lapar sepanjang kepuasan
2023
BIODATA
Ahmad Muzanni, lahir di Jatisela, Gunungsari, Lombok Barat, 8 Februari 1998. Ia menyelesaikan pendidikan tinggi (S1) pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Nahdlatul Wathan, Mataram. Ia juga bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Artummi Sasih, tinggal di Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Buku kumpulan puisinya berjudul Dari Luar Biloq Songkang (2021) dan Sejumlah Peristiwa yang Hilang (2021).
Ence Sumirat lahir di Cianjur tahun 1971. Menulis puisi secara otodidak. Karya puisinya dimuat Suara Karya, Sabili, Pikiran Rakyat, dll. Puisinya juga diterbitkan media cetak Bangladesh dan Malaysia. Antologi puisi tunggalnya: Ode Untuk Mak Erot (2023)
M. Kholilullah alias Holy, lahir di Denpasar, 9 Juni 1997. Ia belajar melukis secara otodidak. Ia pernah berpameran bersama di Universitas Indonesia, Jakarta, tahun 2023. Ia aktif di komunitas Jatijagat Kehidupan Puisi (JKP), Denpasar.