BADUNG, Balipolitika.com- Tibuan neng menjadi Tibubeneng. Tibubeneng kini menjadi salah satu kawasan paling populer di Kuta Utara, Badung. Namun, tahukah Anda arti sebenarnya nama desa ini? Nama Tibubeneng berasal dari dua kata. Kata Tibuan berarti bulakan atau sumur. Sementara kata Neng artinya tidak ada air atau kering.
Jadi, Tibubeneng berarti sebuah sumur yang dalam kondisi kering. Bagaimana mungkin sebuah desa dinamai dari sebuah kekeringan?. Mari kita telusuri sejarah Desa Tibubeneng yang penuh cerita magis dan pertempuran kerajaan.
Semadi Raja dan Kemunculan Buit Tirta
Dahulu kala, hiduplah seorang tokoh bernama I Gusti Gede Mangku Nangun Yasa. Beliau merupakan putra dari I Gusti Gede Meliling. I Gusti Gede Meliling sendiri merupakan putra angkat Raja Mengwi. I Gusti Gede Mangku Nangun Yasa kemudian bersemadi di Tibuan Neng.
Dari hasil semadinya, beliau mendapatkan anugerah pusaka. Pusaka itu berupa lelandepan bernama Ki Lemat Agung. Beliau juga mendapatkan tamiang bernama I Kulen Jaya. Setelah pusaka itu diterima, sebuah keajaiban terjadi seketika.
Air suci muncul dari bawah tanah yang tadinya kering. Air muncul di lokasi yang sebelumnya tanpa air tersebut. Air yang muncul tiba-tiba itu kemudian disebut Buit Tirta. Kisah magis ini kini diabadikan dalam logo Desa Tibubeneng.
Era Kekuasaan I Gusti Gede Mangku
I Gusti Gede Mangku berkuasa di wilayah Tibubeneng pada periode 1557–1702. Beliau memiliki wilayah kekuasaan cukup luas. Batas wilayah itu dianugerahi langsung oleh Prabu Mengwi. Wilayahnya mencakup utara (Desa Dalung) hingga selatan (Jimbaran dan Kuta).
Tibubeneng berada di bawah pengaruh Kerajaan Badung. Kerajaan Badung mengalami perkembangan pesat pada abad ke-14 dan ke-15. Kekalahan Kerajaan Mengwi oleh Badung memperluas wilayah kekuasaan Badung. Wilayah kekuasaan itu termasuk Tibubeneng, Kuta, dan Dalung.
I Gusti Gede Mangku melakukan semadi kedua kalinya. Beliau bertapa di Pura Dalem Padonan yang dianggap keramat. Dari semadi ini, beliau kembali mendapat anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi. Anugerah itu adalah keris Luk Lima bernama I Daun Buluh.
Setelah mendapatkan Pusaka tersebut, rakyat patuh pada aturan. Masyarakat hidup tentram, sejahtera, dan makmur. Di tempat bertapa, beliau mendirikan Gedong suci. Gedong itu menjadi tempat memuja Bhatara Ciwa.
Runtuhnya Kekuasaan dan Pemekaran Desa
Kekuasaan Tibubeneng kemudian mengalami keruntuhan. Peristiwa ini bermula dari perang tiga kerajaan kecil di Kerobokan. Perang tersebut berdampak sampai Kerajaan Tibubeneng. Terjadilah peperangan besar antara Kerajaan Tibubeneng dan Kerajaan Badung.
Serangan pertama Badung ditujukan kepada Kerajaan Banjarsari. Raja I Gusti Made Rai di Banjarsari mengalami kekalahan. Wilayahnya jatuh ke tangan Kerajaan Badung. Wilayah itu kini menjadi Subak Banjar Sari dan Banjar Tegal Gundul.
Serangan berlanjut sampai Kerajaan Berawa dan Kerajaan Tibubeneng. Raja Tibubeneng, I Gusti Gede Mangku, gugur di medan perang. Kerajaan Tibubeneng akhirnya runtuh total. Badung menguasai seluruh wilayah tersebut.
Setelah masa kerajaan, Desa Tibubeneng dipimpin oleh beberapa perbekel. Para perbekel memimpin sebelum desa digabung menjadi satu. Desa Canggu dan Desa Tibubeneng sempat digabung pada tahun 1962. Mereka membentuk Perbekel Tjanggu/Tibubeneng.
Nama Desa Canggu/Tibubeneng diubah menjadi satu, yaitu Desa Canggu. Namun, kebutuhan penduduk menuntut pemekaran baru. Pada tanggal 18 Juli 1997, pemekaran Desa Canggu kembali diusulkan. Hasilnya adalah Desa Canggu sebagai induk dan Desa Tibubeneng sebagai hasil pemekaran.
Drs. I Made Gandra ditunjuk mengisi jabatan Kepala Desa Persiapan Tibubeneng. Desa Persiapan Tibubeneng menjadi desa definitif pada 6 Juli 1999. Drs. I Made Gandra terpilih kembali menjadi Kepala Desa definitif tahun 2001. Sejak saat itu, Desa Tibubeneng terus mengalami perubahan zaman.
Sejarah Desa Tibubeneng menunjukkan akar spiritual yang kuat. Kisah sumur kering yang tiba-tiba berair menjadi pengingat. Desa ini terus beradaptasi dengan perkembangan Kuta Utara. (BP/CHA).













