Pernahkah Anda membayangkan bahwa nama sebuah wilayah yang kini menjadi denyut nadi Kota Denpasar ternyata bermula dari sebuah benda pusaka hasil yoga semedi di puncak gunung? Jauh sebelum deretan toko dan hiruk-pikuk kendaraan memenuhi Jalan Thamrin, sejarah Kelurahan Pemecutan adalah sebuah narasi agung tentang ksatria Majapahit, anugerah mistis, dan takhta kerajaan yang disegani di selatan Bali. Pemecutan bukan sekadar identitas administratif, melainkan simbol kewibawaan yang lahir dari sebuah “Pecut” suci yang melegenda.
DENPASAR, Balipolitika.com- MENELUSURI sejarah Kelurahan Pemecutan membawa kita kembali ke abad ke-14, saat Arya Damar mendarat di Bali bersama Mahapatih Gajah Mada. Dari garis keturunan Majapahit inilah lahir seorang tokoh sentral bernama Arya Bebed. Beliau dikenal sebagai sosok yang gemar melakukan Dewa Sraya atau pengembaraan spiritual ke tempat-tempat suci demi memohon kejayaan bagi negerinya.
Puncak perjalanan spiritualnya terjadi di Gunung Batur. Setelah berhasil melewati ujian berat dari Ida Batara Danu, Arya Bebed dianugerahi dua benda pusaka: Pecut (cambuk) dan Tulup (sumpit). Nama “Pemecutan” pun lahir sebagai bentuk penghormatan terhadap pusaka Pecut yang memberikan kewibawaan luar biasa bagi beliau untuk memimpin wilayah “Badeng” yang kelak kita kenal sebagai Badung.
Kejayaan Puri di Tengah Desa
Setelah Arya Bebed dinobatkan sebagai raja dengan gelar Kyayi Anglurah Pemecutan I, beliau membangun istana megah yang kini lokasinya membentang di sekitar Jalan Thamrin hingga Pemedilan. Puri Pemecutan menjadi sentrum atau pusat gravitasi dari kehidupan masyarakat. Dari sinilah lahir raja-raja besar Badung, termasuk Kyayi Anglurah Sakti Pemecutan (III) yang sangat tersohor karena memiliki keris pusaka Singa Paraga.
Kewibawaan Puri Pemecutan tidak hanya soal kekuasaan fisik, tetapi juga ikatan batin. Pura Tambang Badung menjadi bukti historis-religius yang mempersatukan warga sekitar puri. Ikatan kekeluargaan yang akrab inilah yang kemudian mendasari pembentukan Keprebekelan Pemecutan, yang menjadi cikal bakal desa modern.
Transformasi Menuju Administrasi Modern
Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya populasi, struktur wilayah ini terus berkembang. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Bali No. 57 Tahun 1982, Desa Pemecutan mengalami pemekaran besar. Dari rahim desa induk ini, lahirlah tiga wilayah baru: Kelurahan Pemecutan, Desa Pemecutan Kaja, dan Desa Pemecutan Klod.
Tak berhenti di sana, pada tahun 1989, Kelurahan Pemecutan kembali dimekarkan untuk mengoptimalkan pelayanan publik, melahirkan Desa Tegal Harum dan Desa Tegal Kerta. Meskipun kini telah terbagi secara administratif, ruh perjuangan dan nilai luhur dari Puri Agung Pemecutan tetap mengalir dalam nadi setiap warganya.
Memahami sejarah Kelurahan Pemecutan menyadarkan kita bahwa kemajuan Denpasar Barat hari ini berpijak di atas landasan sejarah yang sangat kuat. Bagi para wisatawan, mengunjungi kawasan ini bukan hanya soal melihat keramaian kota, melainkan menghormati sisa-sisa kejayaan kerajaan yang pernah dibangun dengan tetesan keringat dan doa para ksatria. (BP/CHA).













