AWALNYA aku tak ingin memperhatikan tiap-tiap sudut jalan yang akan aku susuri hari ini. Tetapi, aku tiba-tiba ingat tuah seorang penyair Bakarti kepadaku, “Perhatikan setiap sudut, setiap gerak, setiap suara agar imajinasimu makin tajam terasah.” Ia sisipkan kata-kata itu di sela-sela waktu ketika ia tengah memeriksa struktur cerpenku pekan lalu, pada suatu Sabtu.
Sejak saat itu tiap kali aku jalan kaki kemana saja, kupastikan sudut-sudut jalan terhitung, gerak-gerik manusia yang kutemui tercatat dan suara-suara yang kudengar tertangkap dalam sebuah catatan kecil –catatan kecil yang aku simpan di sebuah ruang dalam bilik ingatanku. Meskipun tidak semua hal yang aku temui dan dengar itu dapat aku ingat sempurna dalam satu waktu, tetapi aku yakin di waktu yang lain, ingatanku akan kembali ketika aku menemukan suatu peristiwa lain yang mirip dengan peristiwa yang aku temukan sebelumnya itu.
Daerah tempatku tinggal, di sebuah kos-kosan lama di Muhajirin, Pancor seolah-olah dibangun hanya sebatas tempat berteduh untukku. Aku akan berteduh dalam waktu yang cukup lama, jika hujan tiba-tiba turun dan tak kunjung reda. Setelah menunggu hujan reda cukup lama, rentetan kesibukan dalam komunitas, gerakan, dan juga tugas kuliah yang membosankan lekas kembali membawaku pergi saat itu juga.
Kamar kosku hanya selebar tiga meter persegi saja. Agar tidak terlalu monoton, aku merancang kamar tua ini layaknya perpustakaan. Dinding-dinding mungilnya, kujejerkan rak-rak buku yang tidak terlalu tinggi agar aku tidak perlu bersijingkat atau menaruh kursi jika hendak mengambil buku. Di kos yang kurancang jadi perpustakaan kecil inilah biasanya aku menyalurkan bakatku yang belum mumpuni, ialah menulis cerita fiksi; termasuk cerita yang sedang aku tulis ini.
Hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya, aku keluar dari kosku bukan lagi karena kesibukan-kesibukan yang membosankan itu. Aku keluar tanpa arah tuju ketika cahaya matahari melindap, dan langit sedang menurunkan rintik-rintik kecil, derai-derai ritmis yang menetes serampangan di wajahku sepanjang jalan nanti.
Angin berdesau ditingkahi gerimis, sementara aku melompat ke halaman kos dan mulai berjalan sambil mendekte ulang kata-kata pernyair itu. Tetapi kemana desau angin membawa langkahku? Tanpa tahu aku akan kemana, aku berjalan saja entah kemana. Aku mulai berjalan menyusuri jalan-jalan setapak, anak-anak gang yang pengap dan rumah-rumah yang tersusun berantakan di tengah Kampung Jorong, sebelah selatan Kampung Muhajirin. Setidaknya, begitu orang-orang menyebutnya, Jorong –entah dari mana nama itu berasal. Lebar jalan setapak anak gang ini tidak lebih dari satu setengah meter saja hingga terkadang membuat dua pemotor mengalami kesulitan jika kebetulan bersemuka di sana.
Sekitar tiga puluh menit berlalu, aku pun keluar dari dari gang B, menyusuri one way yang membentang sekitar 2 KM dari Jalan Gelang di utara ke arah taman-taman kota menuju selatan. Ada tiga taman di kota ini: Taman Pancor, Rinjani, dan Tugu Selong; masing-masing terletak di setiap simpang empat di one way yang menjulur ke arah selatan tadi. Di trotoar kiri jalan, aku berjalan ke selatan menuju simpang 1. Sekitar 250 meter, aku tiba di simpang jalan. Aku mengehentikan langkahku dan berdiri tepat di bawah traffic light sekitar satu setengah menit sambil memandang ke berbagai arah. Setelah green light nyala, aku buru-buru melangkah menyeberangi jalan dan masuk ke area taman.
Baju kaos hitam yang aku pakai hampir setengah basah, wajahku juga bercampur antara peluh dan gerimis, mengeluarkan aroma khas sekaligus aneh; antara bau apek dan bau basah yang beradu kental. Aku menyeka peluh dengan lengan kananku sebelum aku duduk di atas kursi taman yang menghadap ke arah jalan. Aku duduk memandang ke segala arah, menangkap segala sisi yang dapat dijangkau oleh mataku.
Barang sebentar, seorang pria parubaya hanya memakai celana pendek dan berselempang sarung mendekatiku, berjalan dari arah utara. Di atas pundaknya menjulur sebuah tongkat kayu yang ia pegang dengan tangan kananya. Ia menghampiriku sambil melempar senyum, dengan berjalan tegap seperti seorang serdadu dari dunia lain. Pria ini berasal dari sini, orang Pancor asli. Orang-orang di sini memanggilnya Permadi. Menurut orang-orang di sini, Permadi yang dulu bukanlah seperti sekarang ini. Dahulu, ia adalah orang yang saleh, tindih pada agamanya. Tetapi karena suatu waktu ia mendalami ajaran tarekat tertentu, ia tidak bisa mengendalikan dirinya, begitu kata orang. Maka jadilah Permadi yang sekarang; kumal, dekil, dan tak terurus.
Sebenarnya pertemuanku dengannya di sini adalah pertemuan yang kesekian kalinya. Tetapi, karena sebelumnya aku tidak peduli tentangnya –atau lebih tepatnya karena aku belum mendengar kata-kata penyair Bakarti yang menyuruhku mencermati segala hal. Sebelum-sebelumnya, ia sering mengenakan baju gamis lusuh yang penuh sobekan, jas hujan bekas, dan celana olahraga sebelah. Warnanya pudar, coklat tua yang lebih mirip warna tanah, benangnya terurai ke aspal. Terkadang ia memakai topi ulang tahun dan mengalungkan dirinya dengan hanger besi berkarat.
Meski tampangnya begitu kumal, ia adalah satu-satunya orang yang menyapaku siang itu di kursi taman, ketika aku terjebak di antara rerintik hujan. Tak sekedar datang, ia membawakanku sebongkah senyuman yang tidak aku dapatkan dari kebanyakan orang yang aku temukan sepanjang jalan. Orang-orang selalu terburu-buru.
“Minta rokok?” katanya padaku. Aku sontak berdiri dan meraba-raba saku celanaku dan mengeluarkan sebungkus kretek 234. Aku mengambil satu batang kretek untuknya, lalu kupercikkan korek api. Dia mendekatkan kretek di mulutnya itu ke arah korek api di tangan kananku.
Setelah ujung kretek itu menyala, Permadi berdiri tegap. Ia menyelipkan rokok di antara dua jari tangan kirinya, sementara tangan kanannya tidak berhenti memegang tongkat kayu di pundaknya. Ia menghembuskan asap kretek itu sambil berjalan bak seorang serdadu menuju arah selatan. Aku membiarkannya pergi begitu saja meninggalkanku.
Permadi…oh…Permadi, gumamku, apa mungkin ia hanya sekedar gila? Ah, tidak. Ia memang gila sungguhan. Tetapi, apakah pakaian Permadi itu serupa lipatan tekstil yang menyimpan cerita kegilaan; atau barangkali kesadaran yang aku tidak pahami? Tanyaku sendiri, meremang seperti orang gila, sementara suara langkah Permadi berangsur lenyap, begitupula dengan senyumannya yang rela itu.
Aku pun berjalan lagi ke arah selatan, sekitar 500 meter dari tempat ini menuju simpang 2. Tidak lama, gerimis yang menemaniku tadi berubah menjadi belukar hujan hingga membuat aku terlunta di bawah traffic light. Pakaianku yang tadinya setengah basah menjadi kuyup. Aku berdiri sejenak sambil memandang ke arah taman yang telah menjadi kelabu. Green light menyala dan aku segera meloncat ke tengah jalan, menebas deras hujan menuju Taman Rinjani yang jaraknya tinggal selempar tombak.
Aku duduk di kursi taman yang mengarah ke jalan utama. Hujan begitu deras, tetapi aku enggan mencari tempat berteduh. Di sebelah selatan taman, gedung pemerintah daerah menjulang gagah, hampir mengintip panggar langit. Di dekat gedung itu, berjejer toko-toko souvenir, pakaian, makanan dan fasilitias publik lainnya. Di taman hanya ada beberapa orang anak yang bermain di bawah deras hujan, sementara orang tua mereka berteduh di emperan toko kelontong sambil menampakkan wajah yang risau. Tampak dari gerakan tangan mereka yang melambai-lambai seraya berteriak memanggil-manggil anak-anak yang berlari semakin jauh dari mereka.
“Kasir! Kasir!” Teriak salah seorang perempuan yang berteduh tadi tiba-tiba. Dengan celingak-celinguk aku segera menanap perempuan itu.
“Itu…itu…nenek-nenek itu mengambil baju!” Teriaknya lagi sambil menujuk ke arah toko baju. Mendengar suara teriakan, kasir toko baju segera keluar menemui nenek-nenek itu. Ketika seorang nenek itu hendak lari, kasir itu menyergapnya dengan merampas baju dari tangan nenek itu. Sekitar 10 meter dari nenek itu, seorang laki-laki tua idiot berdiri menggunakan pakaian tentara. Topi baret coklat bertengger lekat di kepalanya –entah darimana baju tentara itu ia dapatkan. Dari kejauhan, cekcok antara keduanya berlangsung cukup lama, sementara kakek berbaju tentara itu menampakkan gelagat ketakutan. Akhirnya, kasir toko baju itu berhasil merampas baju itu, tetapi setelah ia hendak balik arah, nenek itu kembali merampas baju itu lagi dan melempar baju itu ke belukar hujan.
“Ha-ha-ha.” Kelakarnya sambil menunjuk kasir itu. Kakek tua juga mengacungkan jari telunjuk sambil tertawa begitu lepas, “Ha-ha-ha.” Sambutnya. Perempuan penjaga toko tadi berhambur dalam lebat hujan mengambil baju itu, sementara si nenek dan kakek tua idiot berjalan tanpa merasa bersalah menuju arah selatan.
Geledak langit menggema, hujan membelukar rimbun, dan aku masih duduk di kursi taman. Pukul berapakah, tanyaku sendiri. Tanpa pikir panjang, aku berdiri dan berjalan ke arah selatan. Aku berjalan di belakang kedua orang tua tadi. Kakek dan nenek itu sekuyup aku. Bedanya, aku sadar ditimpa hujan dan mereka itu sama sekali tidak sadar; atau barangkali merekalah sadar, tetapi aku tidak memahami kesadarannya itu?
Sekitar 400 meter aku berjalan menuju simpang 3. Aku mengulang peristiwa yang sama lagi; menunggu traffic light menyala hijau sampai aku duduk di kursi taman. Hujan belum juga berhenti, warna abu di langit kian mengental; dan aku duduk di kursi Taman Tugu dekat simpang 3. Di tengah-tengah taman, menancap sebuah tugu bambu runcing. Disebut Taman Tugu karena taman ini dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan lokal yang mati dibunuh oleh tentara NICA waktu itu. Begitu cerita yang aku dapatkan.
Di dekat tugu itu, kantor DPRD menjulang gagah. Di samping kanan gedung DPRD terdapat sebuah halte. 20 meter dari halte, terdapat kursi taman yang mirip dengan kursi-kursi taman yang aku duduki sebelumnya. Kursi itu menghadap halte; di sanalah aku duduk di bawah rerimbun hujan. Di halte, aku melihat orang-orang yang aku temukan di dua taman sebelumnya sedang berteduh. Permadi, Si Nenek, dan Si Tua berbaju loreng.
Aku lihat mereka seolah sedang memperagakan adegan dari sebuah drama. Permadi seperti serdadu dengan tongkat kayunya, berjalan mendekati si tua berbaret. Dengan sigap si tua itu berdiri, jari-jemarinya terangkat perlahan, membentuk siluet pistol dari tangan kanannya. Ia membidik Permadi yang melangkah ke arahnya, lalu mendedas peluru berupa suara dari mulutnya. Permadi tersungkur dan tergeletak pura-pura mati di hadapannya.
“Door! Mati kau!” Teriak Si Tua idiot; lalu ia tertawa. Permadi menyambut kelakarnya, begitupula Si Nenek, ia tertawa begitu lepas. Suara kelakar mereka menyatu, bersekongkol menciptakan suara sebesar suara belukar hujan.
Sebebas itukah dunia orang gila, pikirku.
Mungkin itu juga bagian dari kesadaran mereka yang paling bebas yang tidak bisa aku pahami, jawabku sendiri. Aku hanya duduk sendiri di antara rerimbun hujan seraya menikmati adegan penembakan itu. Sejenak, mereka berdiri menghadap ke arahku sambil mengacungkan jari telunjuk. Aku mengira kalau mereka akan memperagakan adegan yang sama seperti sebelumnya, membidikku dengan jari-jari mereka. Tiba-tiba mereka berteriak kencang, melebihi teriakan mereka pada adegan-adegan sebelumnya.
“Orang gila! Orang Gila!” Teriak mereka sambil menunjuk ke arahku. Kelakar mereka menggema, bersahutan dengan suara hujan.
BIODATA
Kha. Majdi lahir di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 9 Agustus. Kuliah di Institut Agama Islam Hamzanwadi Pancor, Lombok Timur. Aktif berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah. Ia menulis cerpen, puisi, dan esai di beberapa media online. IG: @khaerulmajdii













