BADUNG, Balipolitika.com– Lahirnya Desa Angantaka. Kisah Desa Angantaka berakar pada api kemarahan seorang raja. Setiap desa pasti memiliki momen sejarah tertentu di baliknya. Momen ini menjadi alasan kuat nama desa tersebut dipilih dan dipakai. Sejarah Desa Angantaka berawal dari konflik internal kerajaan. Kisah ini dimulai sekitar abad ke-18 atau tahun Saka 1750. Raja Ida I Gusti Ngurah Jelantik XV bertahta di Puri Blahbatuh.
Ida I Gusti Ngurah Jelantik XV memiliki lima orang putra. Setelah ia gugur dalam peperangan di Wanayu. Sanak saudara yang tersisa adalah I Gusti Ngurah Gede Abyan. Saudara ini tinggal di Puri Blahbatuh saat itu. Putra sulung raja gugur setelah peperangan.
Suatu ketika terjadi kemelut di Puri Blahbatuh. Beberapa kelompok manca Puri menginginkan pimpinan baru. Mereka menginginkan Ida I Gusti Ngurah Gede memegang kerajaan. Kelompok lain ingin I Gusti Ngurah Gede Abyan tetap berkuasa. I Gusti Ngurah Gede Abyan ingin menghindari pertumpahan darah. Ia mengutus para wadwa supaya menghadap ia. Ia kemudian menyatakan akan pergi dari Puri Blahbatuh.
I Gusti Ngurah Gede Abyan pergi dari Puri Blahbatuh. Ia diiringi lima puluh orang wadwa yang setia. Wadwa ini terdiri dari berbagai Treh (klan) berbeda. Ada Treh Kubayan, Pande, Tangkas, dan Tegeh Kuri.
Karang Dalem dan Pura Penataran Agung
Setelah sekian lama melakukan perjalanan jauh. Mereka tiba di sebuah desa yang masih berupa hutan. Hutan terik itu diberi nama Karang Dalem. Karang Dalem berarti lembah atau pangkung yang dalam. Puri yang ia buat berada di tempat yang berjurus.
Dari puri, ia memandang ke arah timur laut. Pemandangan itu langsung kelihatan Gunung Agung. Leluhurnya mendapat anugerah dari Ida Betara Toh Langkir. Anugerah itu berupa pusaka untuk melawan Dalem Bungkut. Pusaka dipakai saat melawan Raja Nusa Penida. Pura Penataran Agung menjadi peninggalan ia. Pura itu kini dikenal di Karang Dalem II Desa Bongkasa.
Ngentak Menjadi Angantaka
Raja Mengwi mendengar keberadaan ia kemudian. Raja Mengwi merasa satu Treh atau keturunan. Keduanya sama-sama keturunan Cri Nararya Kresna Kepakisan. Raja Mengwi ingin ia menempati pengunjung wilayah Mengwi. Ia akan menjaga wilayah perbatasan dengan Kerajaan Badung.
Suatu hari, I Gusti Ngurah Gede Abyan berangkat lagi. Ia diiringi para Wadwe menuju hutan Desa Bun. Di Desa Bun, ia diterima oleh mertua ia. Mertua ia menyarankan merabas hutan Desa Bun. Mertua ia tidak mengizinkan ia tinggal di Puri Bun.
Ia bersama pengiringnya merabas hutan itu. Mereka menjadikan hutan tersebut sebuah desa baru. Desa itu diberi nama Desa Angantaka. Angantaka berasal dari kata ngentak yang berarti panas. Kepergiannya dari Blahbatuh karena situasi panas. Situasi itu mengarah pada suatu perpecahan. Ngentak juga berarti pikiran murka, kalut, dan jengah. Ini menimbulkan semangat berapi-api dalam dirinya. Ia mengalah demi menghindari perpecahan besar.
Penyatuan Banjar dan Kekerabatan
Lama kelamaan sebutan Ngentak berubah menjadi Angantaka. Banjar pertama di desa itu adalah Banjar Karang Dalem. Banjar ini lama kelamaan menjadi Banjar Dalem. Banjar itu berkembang dengan Banjar Puseh dan Banjar Desa. Raja Mengwi juga memberikan rakyat dari Kekeran Mengwi. Rakyat itu kemudian menjadi Banjar Kekeran Angantaka.
Saat Perang Badung dengan Mengwi terjadi. Puri Sading dititipkan Raja Mengwi di Angantaka. Puri dititipkan bersama rakyat Tegal Darmasaba. Rakyat ini kemudian menjadi Banjar Tegal. Banjar Tegal digabungkan dengan Banjar Desa Angantaka.
Kekerabatan masyarakat Angantaka terbukti kuat. Keluarga besar mereka berasal dari banyak daerah. Mereka berasal dari Gianyar Blahbatuh dan Kemenuh Bon Biu. Mereka juga dari Kekeran Mengwi dan Tegal Darmasaba. Sejarah Desa Angantaka adalah bukti penyatuan dan pertahanan. (BP/CHA).
Sumber artikel: https://desaangantaka.badungkab.go.id













