KALAU saja Peramal Chu bisa menerawang dengan jitu dan dan langsung bisa menunjukkan keberadaan pemuda gila itu, Mahdi akan membayarnya, berapa pun yang diinginkan.
Sungguh, ia tidak main-main! Lelaki tua yang dinaungi rimbun kersen itu sudah tak bisa menanggung lagi penantian yang telah menderanya selama dua puluh tahun lebih.
Daun kering jatuh ke ubunnya yang ditumbuhi uban. Seperti hendak mengingatkannya bahwa matahari makin condong ke barat, dan ia mesti bangkit dari kursi taman yang telah ia duduki sejak jam dua siang.
“Pulang!” perintah daun itu.
Mahdi menyeringai dan mengambilnya, lalu dibuang ke rumputan.
“Andai saja aku bisa membuang wajah pemuda gila itu dari ingatanku. Andai saja aku tak terlanjur begitu peduli pada orang-orang gila,” bisiknya.
Kali ini ranting kecil rapuh kersen yang melayang ke ubunnya.
“Duh!”
Ia mengaduh karena mendadak kembali menyadari diri telah menjadi gila.
Ia seorang pensiunan anggota DPRD kabupaten.
Saat menjadi anggota dewan ia sangat perhatian pada orang gila, karena memang salah satu tujuannya menjadi anggota dewan adalah untuk bisa menyantuni dan memberikan perlindungan pada orang-orang gila yang cukup banyak di kabupaten tempat tinggalnya.
Ia sendiri tidak paham mengapa bisa demikian. Yang ia sadari betul, bahwa di dalam dirinya telah tumbuh dan semakin menguat prinsip bahwa hadirnya orang gila adalah cara Tuhan mengingatkan manusia normal tentang harga kewarasan, agar selalu menghargai kewarasan, dan karenanya pula manusia normal harus berterima kasih atas keberadaan orang gila. Cara paling realistis dan konkrit terkait tindakan berterima kasih tersebut adalah dengan memperlakukan orang gila secara baik, menyantuninya, melindunginya.
Hampir tiap hari ia mendatangi orang-orang gila di berbagai lokasi di kota kabupaten. Ia membawakan mereka makanan, rokok dan pakaian. Sering pula tukang cukur sewaan menyertainya, untuk disuruh mencukur rambut orang-orang gila tersebut. Bahkan bersama tenaga medis bayaran pula, untuk memeriksa kesehatannya.
Pada waktu-waktu tertentu ia hadir pula di desa-desa untuk mengunjungi orang-orang gila yang diisolasi atau dipasung oleh keluarga. Ia berikan perhatian yang sama.
Kerasnya perhatian pada orang gila telah pula mendorong Mahdi untuk memperjuangkan pendirian rumah sakit jiwa. Tentu dalam kapasitasnya sebagai anggota dewan, melalui institusinya, DPRD kabupaten. Sayangnya pemkab belum memiliki anggaran cukup untuk itu.
Ia kecewa. Menurutnya pemerintah kabupaten telah hendak berlepas tangan dari mengurusi warganya sendiri, yang semestinya juga membutuhkan perhatian lebih.
“Pemkab gila!” umpatnya selalu, karena dalam pikirannya pemerintah kabupaten sedang berada dalam kondisi mengingkari peringatan Tuhan perihal harga kewarasan.
Yang menghiburnya adalah keyakinannya, bahwa walaupun dalam bentuk bantuan ala kadarnya, ia telah mampu memberi perhatian pada seluruh orang gila yang ada di kota maupun desa di seluruh wilayah kabupatennya. Perhatian yang kadang berlebihan juga menurut isteri dan anak-anaknya.
Bagaimana tidak, kadang tidak seluruh gajinya atau pendapatan lain-lainnya sampai pada isteri anaknya karena sudah nyangkut di orang-orang gila.
Diam-diam isterinya, Tuti, merasa bahwa suaminya itu sudah gila pula.
Ada kejadian yang menyebabkan Tuti semakin sering menyebut Mahdi sebagai orang gila, meski sebatas dalam hati.
Sore itu, seperti biasa Mahdi sedang mengendarai mobilnya untuk menuju sebuah lokasi tempat biasa “mangkal” orang gila bernama Sumi.
“Dasar orang gila tak tahu berterima kasih! Enyah kau dari sini!”
Seruan itu menumbuk telinga Mahdi yang baru tiba. Matanya menangkap seorang lelaki yang berseru marah sambil memukul seorang pemuda dengan sepotong kayu. Tiga lelaki lain nampak ikut mendukung lelaki itu, walaupun dengan hanya berteriak, “Ya, suruh ia pergi dari sini! Orang gila sialan!”
Orang-orang lain, para pejalan, pengendara, pedagang kaki lima menonton saja, tanpa ada yang berusaha menghentikan aksi kekerasan itu yang terus berlanjut.
Pemuda berpakaian lusuh yang disebut “orang gila” itu berusaha menghindar dengan lari sambil berteriak kesakitan. Sekilas Mahdi melihat wajahnya tampan dan tahi lalat di tengah keningnya, yang segera tertutup oleh lelehan darah karena kepalanya luka terkena pukulan.
“Cukup, Pak! Cukup! Kasihan!”
Mahdi turun dari mobil dan berlari menghampiri pemuda gila itu seraya merentangkan tangan, menghalangi si Lelaki Pemukul yang segera tahu bahwa penghalangnya adalah Mahdi, anggota dewan.
Lelaki itu segera menghentikan pengejaran.
“Sudah saya baik-baiki si Gila ini, Pak! Ia saya beri makan dan pakaian, Pak,” katanya dengan nafas tersengal karena emosi. “Eh, dia malah melempari lapak saya, hingga merusak beberapa dagangan dan batunya hampir mengenai kepala anak balita saya!”
Mahdi tak merasa perlu menanggapi keluhan tersebut. Sebab menurutnya lelaki itu harus dengan sendirinya paham bahwa ia sedang berurusan dengan orang gila, yang memang bisa saja melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya, biarpun sudah diperlakukan dengan baik.
Setengah berlari Mahdi membuntuti pemuda gila itu yang telah agak jauh meninggalkan lokasi dengan terus menjerit-jerit, mengumpat-ngumpat tak jelas sambil memegang kepalanya yang terluka.
“Tunggu! Hei, tunggu saya!” seru Mahdi.
Tapi yang dipanggil mempercepat larinya dan menghilang di balik gang pemukiman.
Mahdi bergegas kembali ke mobilnya, memutarnya dengan maksud mengejar lagi.
Ia sempat bertanya pada orang-orang yang terdiam saja melihat tingkahnya. “Siapa nama pemuda gila itu? Sepertinya baru ada di sini.”
“Iya, Pak. Baru kemarin sore kami lihat ada di sini. Entah dari mana datangnya. Kami tak tahu namanya.”
Jawaban itu cukup bagi Mahdi. Ia harus segera menemukan pemuda gila itu.
Sumi yang melambai-lambaikan tangannya dari sudut sebuah toko sambil cengengesan tak lagi ia perhatikan.
Mahdi lupa tujuannya menemui wanita itu.
Sampai malam, memutar-mutar pemukiman dan bertanya pada warga, Mahdi tak juga bisa menemukan pemuda itu. Hari-hari berikutnya ia mengulangi pencarian, hasilnya tetap nihil. Hingga habis masa pertama jabatannya Mahdi tak pernah bisa menemukannya.
Lelaki anggota dewan tak pernah putus asa. Ada sesuatu yang tak ia mengerti lagi, yang mendorongnya untuk terus mencari keberadaan pemuda gila itu dan berharap bisa memberinya bantuan, menyantuninya, memberinya perlindungan seperti orang-orang gila lain.
“Sudahlah, Pak. Jangan berlebihan,” saran isterinya suatu ketika. “Masa iya hanya karena kasihan, hanya karena belum sempat memberikan bantuan, lalu Bapak tak bisa melupakan pemuda gila itu.”
Benar kata isterinya. Tapi bukan sekadar itu, sanggah batin Mahdi. Tidak pula semata dorongan prinsipnya terkait keharusan berterima kasih pada keberadaan orang gila! Semakin ia mengingat wajah tampan pemuda itu, ia merasa seperti ada ikatan kuat yang mempertahankan hati dan pikirannya terus bertaut pada pemuda itu.
“Ada sebentuk energi, yang tak kasat mata, yang terhubung antara Bapak dengan pemuda itu, hingga Bapak tak bisa melupakannya.” Itu kata Peramal Chu yang menjadi tempat Mahdi berkonsultasi.
“Bisa jadi energi positif, tapi mudah-mudahan bukan energi negatif, Bu,” terang Mahdi kepada isterinya mengulangi apa yang diucapkan Peramal Chu.
Tapi dalam hatinya, sang Isteri kembali mengumpat, “Bapak saja yang gila!”
Agar bisa tetap tinggal di kota kabupaten guna meneruskan pencarian, Mahdi mencalonkan diri kembali menjadi anggota dewan, dan berhasil.
Dengan kemampuannya ia berusaha melalui berbagai cara untuk melacak keberadaan pemuda gila itu. Bahkan ia membayar orang untuk mencari. Tapi nihil.
Sampai lelaki itu menghabiskan masa kedua jabatannya, pemuda gila itu tetap “hilang ditelan bumi”.
Ia kemudian menemukan cara. Ia hendak membuat penampungan orang gila, dengan harapan bisa mengumpulkan –lalu termasuk- pemuda gila itu.
Untuk bisa membuat penampungan orang gila, ia butuh uang. Maka ia harus menjadi anggota dewan lagi agar bisa memiliki anggaran untuk merealisasikan rencananya.
Saat itu usianya sudah tujuh puluh tahunan. Tubuhnya sudah mulai lemah dan sering sakit-sakitan. Tapi ia tetap bersikeras mencalonkan diri lagi ke DPRD provinsi.
Melihat kekerasan hatinya, orang-orang mulai menyebutnya gila jabatan, gila kekuasaan dan gila uang.
Anak-anaknya juga sudah mulai berani ikut ibu mereka, mengumpat dalam hati, “Bapak memang gila!”
Tapi langkah ketiga Mahdi gagal. Suara yang ia peroleh tak cukup untuk mendudukkannya di kursi dewan provinsi. Lelaki tua itu sangat kecewa.
Ia kemudian pulang ke desanya, dengan tetap membawa harapan akan keajaiban pemuda gila itu tiba-tiba saja muncul di desanya.
Setiap pagi dan sore ia selalu duduk di tepi jalan-jalan, menunggu kehadiran pemuda gila itu.
Kian hari tingkahnya semakin menjadi-jadi. Ia bisa berjam-jam duduk di tepi jalan. Bisa pula berpindah-pindah tempat yang bahkan jauh dari rumahnya. Anak isterinya kerepotan mencari dan menjemputnya pulang. Karena tingkahnya orang-orang berpikir bahwa lelaki mantan anggota dewan itu telah stres, telah gila, yang dihubungkan dengan kegagalannya menjadi anggota dewan untuk kali ketiga.
“Apakah kita harus mengabaikan kata-kata orang bahwa Bapak telah stress, telah gila, Bu?” Berulang kali anak-anak Mahdi menanyakan ibunya.
***
Sore terus merambat. Semakin jelas pertemuannya dengan senja. Sebentar bumi akan mulai remang-remang. Angin dingin pun mengeras. Daun kering dan ranting kecil kersen juga semakin banyak gugur. Tapi belum bisa mengusir Mahdi.
Sebuah mobil minibus berhenti di sisi lain jalan. Seorang lelaki empat puluhan tahun berwajah tampan dengan tahi lalat di tengah keningnya turun dari mobil itu, dan memandangi Mahdi.
Saat itu pula anak isteri sang Mantan Anggota Dewan tiba di tempat tersebut dengan mobil. Bersama mereka seorang lelaki muda berpakaian dokter.
Masih di dalam mobil, mereka memperhatikan Mahdi.
Mereka berbicara.
Tuti berbisik, “Begitulah tingkahnya setiap hari, Dok. Kami kawatir Bapak kenapa-kenapa. Bagaimana menurut, Dokter?”
Lelaki berpakaian dokter itu mengangguk-angguk. “Terserah Ibu dan anak Ibu. Jika mau kita bawa ke rumah sakit jiwa sekarang, ya kita bawa saja, untuk kita lakukan pemeriksaan kejiwaan padanya.”
Mobil anak isteri Mahdi bergerak lagi dan berhenti di depannya.
Mereka turun dan sang Isteri langsung menarik lengan suaminya itu untuk masuk ke dalam mobil sambil berkata, “Ayo kita jalan-jalan, Pak.”
Mahdi bingung dengan kedatangan tiba-tiba anak isterinya, bersama lelaki asing pula. Tapi ia tak sempat bertanya, sebab ia telah ditarik masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun meluncur.
Lelaki tampan yang ada di seberang terus menatap kepergian mobil itu sampai hilang di balik tikungan. Wajahnya kecewa, sebab sebenarnya ia sedang hendak menemui Mahdi.
Pikirannya menerawang ke masa lalu, ketika ia berusia dua puluhan tahun. Saat itu ia masih kuliah di kota kabupaten. Ia geram melihat kelakuan salah seorang anggota dewan kabupaten yang menurutnya sangat keterlaluan dalam usaha mencari dukungan rakyat dan membuat pencitraan, yaitu dengan mengeksploitasi keberadaan orang-orang gila. Sok memperhatikannya, sok membantunya, sok melindunginya. Padahal itu hanya kedok semata agar mendapat simpati.
Pemuda itu kemudian bercita-cita menjadi seorang aktivis yang akan melawan tingkah anggota dewan itu dan bila perlu menghancurkan karier politiknya. Untuk itu ia harus menjadi orang pintar, dengan cara kuliah.
Tapi, keinginannya untuk kuliah sampai selesai tidak tercapai, karena hanya bisa sampai semester dua, orang tuanya tak sanggup membiayai. Ia kemudian stress dan menjadi gila.
Tahun-tahun berlalu. Ia sudah sembuh dari gilanya, dan sudah menjadi aktivis di sebuah lembaga HAM di kota yang jauh.
Beberapa waktu lalu ia pulang dan mendengar kabar tentang keberadaan lelaki mantan anggota dewan yang dulu ia benci telah pensiun, telah kembali ke desanya, menjadi stress, sepertinya gila dan kadang-kadang bicara pada orang-orang bahwa ia ingat dan menunggu kehadiran seorang pemuda gila yang wajahnya tampan dan ada tahi lalat di tengah keningnya.
Ia ingin tahu apa maksud lelaki mantan anggota dewan itu mencari dirinya.
Sumbawa Timur, 6 Maret 2025
BIODATA
YIN UDE, penulis Sumbawa Timur, Nusa Tenggara Barat. Menulis sejak 1997. Karyanya berupa puisi, cerpen, novel dan artikel terpublikasi di media cetak dan online dalam dan luar daerah Sumbawa, antara lain Lombok Pos, Suara NTB, Sastra Media, Bali Politika, Elipsis, Suara Merdeka, Solo Pos, Kompas, Republika dan Tempo. Memenangkan beberapa lomba penulisan puisi dan cerpen. Buku tunggalnya adalah Sepilihan Puisi dan cerita Sajak Merah Putih (Rehal Mataram, 2021) dan Novel Benteng (CV Prabu Dua Satu Batu Malang, Mei 2021) dan antologi puisi Jejak (Penerbit Lutfi Gilang Banyumas, 2022). Puisinya termuat pula dalam belasan antologi bersama para penyair Indonesia.