DENPASAR, Balipolitika.com– Jadi wadah kolaborasi tenaga medis dari berbagai negara dalam meningkatkan kualitas penanganan stroke, ajang Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLINC) 2026 digelar di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Senin dan Selasa, 27-28 April 2026.
Konferensi yang mengusung tema “Stroke Wars: Beyond the Circle” ini tidak hanya membahas kemajuan teknologi medis, tetapi juga menekankan pentingnya kecepatan deteksi dan penanganan stroke, yang sangat menentukan peluang kesembuhan pasien.
Dalam sesi wawancara bersama awak media, Affan Priyambodo, Sp.BS, Subsp.N-Vas selaku Conference Chair, didampingi oleh Kumara Tini, Sp.S(K), FINS, FINA sebagai Co-chair, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam penanganan stroke.
Mereka menyampaikan bahwa forum seperti BLINC menjadi sarana strategis untuk mempercepat transfer ilmu, teknologi, serta peningkatan kompetensi tenaga medis di Indonesia.
Indonesia diharapkan mengambil peran sebagai pusat keunggulan (center of excellence) di bidang penanganan stroke dan intervensi neurovaskular.
Konferensi ini dihadiri oleh sedikitnya 400 peserta dan menghadirkan pakar dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Malaysia, China, dan India.
BLINC 2026 mengutamakan pendekatan multidisiplin yang melibatkan tiga pilar utama penanganan saraf, yakni radiologi, bedah saraf, dan neurologi.
Teknik Sederhana Bisa Efektif
Salah satu peserta dari Korea Selatan, yang berasal dari Busan, turut membagikan pengalaman klinis dalam menangani stroke dengan pendekatan yang lebih sederhana.
Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa tidak semua kasus memerlukan teknik kateter yang kompleks.
Pada kondisi tertentu, aspirasi langsung dapat menjadi pilihan yang efektif.
Ia mencontohkan kasus di mana hanya dengan satu kali tindakan aspirasi tanpa penggunaan stent retriever, hasil yang baik sudah dapat dicapai.
Kunci keberhasilan terletak pada penempatan kateter yang optimal, pergerakan yang halus saat prosedur, dan keputusan yang cepat dan tepat.
Meskipun terdapat potensi risiko seperti getaran atau ketidakstabilan, pendekatan ini dinilai tetap aman selama dilakukan dengan teknik yang baik.
Menurutnya, dalam penanganan stroke, kecepatan dan kesederhanaan prosedur sering kali menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan.
“Waktu sangat penting. Metode yang sederhana, aman, dan cepat justru bisa memberikan hasil yang optimal,” ungkapnya.
Stroke Tidak Datang Tiba-Tiba
Para ahli menegaskan bahwa stroke merupakan bagian dari penyakit gaya hidup (lifestyle disease) yang dipicu oleh faktor seperti hipertensi, diabetes, gangguan lemak darah, merokok, dan kurang aktivitas fisik.
Seiring perkembangan zaman, gaya hidup minim gerak semakin meningkatkan risiko stroke, bahkan pada usia muda.
Kenali Gejala dengan Metode BE FAST
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, metode BE FAST menjadi cara sederhana untuk mengenali gejala awal stroke, yakni B (Balance): kehilangan keseimbangan; E (Eyes): gangguan penglihatan; F (Face): wajah tidak simetris; A (Arms): kelemahan pada lengan; S (Speech): bicara pelo; T (Time): segera cari pertolongan medis.
Penanganan Modern, Harapan Lebih Besar
Dengan kemajuan teknologi serangan stroke dapat ditangani secara optimal jika dilakukan dengan cepat.
Terapi obat penghancur sumbatan (trombolisis) pada stroke iskemik paling efektif jika diberikan dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala pertama muncul. Periode ini sering disebut sebagai golden period.
Tindakan intervensi kateter (kateterisasi jantung/PCI) dalam kurun waktu <24 jam biasanya merujuk pada prosedur Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) atau pasang ring darurat.
Kolaborasi untuk Masa Depan
Melalui BLINC 2026, para tenaga medis dari Indonesia dan dunia berbagi ilmu, teknik, dan pengalaman.
Namun, tantangan masih ada, terutama dalam pemerataan tenaga ahli dan akses layanan kesehatan di daerah terpencil.
Pencegahan Tetap Jadi Kunci
Masyarakat diimbau untuk rutin cek tekanan darah, menjaga pola makan, aktif bergerak, menghindari rokok, dan mengelola stres.
Melalui edukasi seperti metode BE FAST, diharapkan masyarakat dapat lebih waspada dan bertindak cepat saat gejala muncul karena dalam kasus stroke, setiap detik sangat menentukan. (bp/ayu/ken)













