DI TENGAH lautan manusia yang bergerak tak terbendung, aku berdiri di pinggir jalan, merasakan betapa kecilnya diriku di antara gelombang protes yang menggema di seluruh Jakarta. Bendera-bendera berkibar di udara, suara-suara penuh amarah bergema dari setiap sudut jalan. Langit kota Jakarta mendung, seakan menjadi cerminan hati para demonstran yang lelah dan frustrasi.
Namaku Arya. Aku bukan aktivis. Aku bukan orang yang punya kekuatan untuk mengubah sesuatu. Aku hanyalah seorang mahasiswa yang kebetulan terjebak dalam peristiwa ini, atau mungkin lebih tepatnya, terseret arus yang tak lagi bisa kuhindari.
“Ry, lo yakin mau ikut?” Suara Iqbal, temanku, terdengar samar di tengah riuh rendah teriakan massa.
Aku menoleh dan menatap wajahnya yang cemas. Dia lebih tinggi dari aku, tubuhnya lebih tegap. Tapi kali ini, tatapan matanya penuh keraguan, seolah-olah kami sedang melangkah menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari yang kami duga.
“Gue nggak tahu, Bal,” jawabku jujur. “Tapi kita sudah sampai di sini. Lo sendiri gimana?”
Iqbal menghela napas berat, kemudian meraih pundakku dengan erat. “Kita harus hati-hati, Ry. Situasinya udah panas banget. Kalau terjadi keributan, kita cari tempat aman, ya?”
Aku mengangguk pelan. Meskipun tidak ada niat untuk berbuat onar, aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di udara. Seperti ketegangan yang menunggu untuk meledak.
Di depan kami, barisan demonstran mulai bergerak maju. Aku tidak tahu apa tepatnya tuntutan mereka—mungkin soal keadilan, mungkin soal kebebasan. Tapi yang jelas, ada kemarahan di sana, dan kemarahan itu menular. Setiap kali seseorang berteriak, energi mereka seolah mengalir melalui tubuhku, membuat darahku berdesir lebih cepat.
Kami melangkah maju bersama kerumunan, mendekati gedung parlemen yang dijaga ketat oleh polisi anti huru-hara. Barisan tameng mereka berdiri kokoh, menciptakan batas yang jelas antara kami dan mereka. Di tengah ketegangan itu, aku tak bisa mengabaikan suara sirene yang semakin mendekat. Ada perasaan yang menggerayangi hatiku—sesuatu akan terjadi, sesuatu yang tak bisa dihindari.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar bunyi keras. Ledakan? Tidak, mungkin suara petasan. Tapi kemudian, semuanya terasa kacau.
“Jaga jarak! Jaga jarak!” seseorang berteriak dari arah depan. Orang-orang mulai berlarian, terdorong oleh dorongan insting bertahan hidup. Aku mencoba mencari celah untuk bergerak, namun tiba-tiba aku kehilangan jejak Iqbal.
“Bal? Iqbal!” Aku berteriak, tetapi suaraku tenggelam di antara hiruk pikuk massa. Sesaat kemudian, sebuah gas air mata dilemparkan ke arah kami. Kepulan asap putih mulai menyebar, membakar mataku, membuat napasku tersengal-sengal. Aku batuk-batuk, mencoba menahan rasa perih yang merasuki setiap pori-pori kulitku.
Kepanikan melanda kerumunan. Orang-orang mulai berlari ke segala arah, tidak peduli siapa yang mereka tabrak. Aku terdorong ke samping, terjatuh di atas trotoar. Di tengah kekacauan itu, seorang perempuan tiba-tiba muncul di sampingku, menarik lenganku dengan kuat.
“Ayo, berdiri! Kita harus keluar dari sini!” teriaknya.
Aku mendongak, melihat wajahnya yang penuh ketegasan. Dia lebih tua dariku, mungkin sekitar dua puluhan akhir, dengan rambut hitam yang diikat ke belakang dan mata yang tegas menatap lurus ke depan. Tidak ada waktu untuk bertanya siapa dia atau kenapa dia menolongku. Aku hanya mengikuti dorongannya, mencoba berdiri sambil menahan rasa sakit di lututku yang terbentur keras tadi.
“Kita mau ke mana?” tanyaku sambil terengah-engah.
“Ke tempat yang lebih aman! Ayo cepat!” jawabnya sambil menarikku ke arah gang sempit di antara dua gedung.
Kami berlari tanpa henti, hingga akhirnya suara demonstrasi mulai mereda di kejauhan. Kami tiba di sebuah lorong yang sepi, jauh dari kerumunan massa dan gas air mata. Napasku masih tersengal-sengal, tubuhku basah oleh keringat.
Perempuan itu akhirnya berhenti dan menatapku. “Lo nggak apa-apa?”
Aku mengangguk, meskipun kenyataannya tubuhku masih gemetar. “Terima kasih… Gue nggak tahu gimana jadinya kalau lo nggak nolong gue.”
Dia tersenyum tipis. “Nggak perlu terima kasih. Gue juga pernah di posisi lo. Namanya juga perjuangan, kadang kita nggak bisa jalan sendirian.”
“Siapa nama lo?” tanyaku.
“Indira,” jawabnya singkat. Dia mengulurkan tangan, dan aku menyambutnya dengan ragu-ragu. Tangan kami bersalaman sebentar sebelum dia melepaskannya lagi.
“Sebenarnya, lo ngapain di sana?” tanyanya. “Lo nggak kelihatan kayak orang yang suka ikut demo.”
Aku tertawa pahit. “Gue juga nggak tahu. Tadinya Cuma ikut-ikutan temen gue, Iqbal. Tapi tiba-tiba semuanya jadi kacau.”
Indira menatapku sejenak, seolah mencoba menilai apakah aku jujur atau tidak. Kemudian dia menghela napas panjang. “Mau balik lagi ke sana?”
Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Tapi sebelum aku bisa menjawab, suara langkah kaki terdengar mendekat dari lorong yang sama. Indira langsung bergerak cepat, menarikku ke balik tembok.
“Diam!” bisiknya tegas.
Dari balik tembok, aku bisa melihat beberapa orang pria berpakaian sipil berjalan cepat melewati lorong, sambil berbicara melalui radio. Wajah mereka serius, seperti orang-orang yang sedang menjalankan misi tertentu. Aku tak bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan, tapi naluriku mengatakan untuk tidak membuat suara sedikit pun.
Setelah mereka pergi, Indira melepaskan genggamannya di lenganku dan menghela napas lega. “Mereka kayaknya intel. Kita nggak bisa balik ke sana sekarang.”
“Gila,” gumamku. “Ini lebih gila dari yang gue kira.”
Indira menatapku dengan tatapan yang sulit ditebak. “Ini memang bukan permainan, Arya. Ini adalah kenyataan yang sedang kita hadapi. Kalau lo cuma mau ikut-ikutan, mungkin lebih baik lo pulang aja.”
Aku terdiam, meresapi kata-katanya. Ada kebenaran dalam ucapannya, meskipun aku tak mau mengakuinya. Sejak awal, aku hanya berniat datang untuk melihat apa yang terjadi, bukan untuk terlibat terlalu dalam. Tapi sekarang, setelah aku melihat semuanya dengan mata kepala sendiri, apakah aku benar-benar bisa berpaling begitu saja?
“Indira,” panggilku perlahan. “Kenapa lo ikut ini semua? Apa yang lo perjuangkan?”
Dia menatapku, matanya terlihat sejenak bimbang sebelum akhirnya dia menjawab, “Gue kehilangan kakak gue setahun lalu dalam demo yang sama. Dia dihantam peluru karet dan nggak pernah bangun lagi. Sejak itu, gue janji untuk meneruskan perjuangannya.”
Aku terdiam mendengar pengakuannya. Ada rasa sakit yang terpancar dari kata-katanya, sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar kemarahan. Aku ingin mengatakan sesuatu, tapi tak tahu apa yang harus kukatakan. Mungkin kata-kata tak akan pernah cukup untuk menghapus luka sebesar itu.
Namun sebelum aku bisa berkata apa-apa, suara letusan terdengar lagi dari kejauhan, menggemakan ketegangan yang sempat mereda. Indira langsung berdiri tegak.
“Ada keributan lagi,” katanya cepat. “Kita harus bergerak.”
Aku tak tahu kenapa, tapi kali ini aku mengikutinya tanpa ragu. Mungkin karena aku merasa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku berada di tengah sesuatu yang lebih besar dari diriku sendiri.
Saat kami kembali mendekati area demonstrasi, kami melihat kekacauan di mana-mana. Polisi dan demonstran bentrok di berbagai sudut. Teriakan, tangisan, dan suara sirene bercampur menjadi satu. Di tengah kekacauan itu, aku melihat seseorang terjatuh di dekat barikade.
“Iqbal!” Aku berteriak sekeras mungkin ketika menyadari siapa yang terbaring di sana.
Tanpa berpikir panjang, aku berlari menerobos kerumunan, mendekati tubuh Iqbal yang tak bergerak. Darah mengalir dari kepalanya, menciptakan noda merah di aspal yang dingin. Aku berlutut di sampingnya, mengguncang tubuhnya.
“Bal, bangun! Iqbal!” Suaraku pecah, tetapi tidak ada respons.
Indira muncul di sampingku, wajahnya pucat. “Kita harus bawa dia keluar dari sini, Arya. Kalau nggak, dia nggak akan bertahan.”
Aku tak bisa berpikir jernih. Semua terasa kabur dan terasa seperti mimpi buruk yang terus berlangsung. Aku merasakan tubuh Iqbal yang dingin, napasku sesak melihat darahnya. Bagaimana kami bisa sampai di titik ini? Kami hanya mahasiswa biasa, bukan pejuang di medan perang.
Dengan bantuan Indira, kami mengangkat tubuh Iqbal yang lemas. “Lo kuat, Arya? Kita harus ke tempat aman,” kata Indira dengan nada mendesak.
“Aku bisa,” jawabku, meskipun kenyataannya tubuhku hampir tidak bisa menopang beban temanku yang terluka parah.
Kami mulai bergerak lagi, menyusuri gang-gang kecil yang sepi. Detak jantungku terus berdentum keras di telingaku. Ada rasa takut yang tak pernah kurasakan sebelumnya—takut kehilangan teman, takut kehilangan diriku sendiri dalam semua ini.
Kami akhirnya tiba di sebuah klinik kecil, tempat para demonstran yang terluka dirawat oleh beberapa dokter relawan. Indira mengetuk pintu belakang, dan seorang dokter segera membukanya. “Cepat masuk!” katanya. “Ada apa dengan dia?”
“Dia kena pukul di kepala, banyak darah,” jawab Indira.
Dokter itu memeriksa Iqbal sebentar, lalu mengarahkan kami ke sebuah meja bedah darurat. “Letakkan dia di sini. Saya akan coba menghentikan pendarahannya.”
Aku berdiri terpaku di dekat pintu, tubuhku gemetar dan kepalaku berdenyut. Indira mendekat, menepuk pundakku pelan. “Lo udah lakukan yang terbaik, Arya.”
Aku hanya mengangguk, tak mampu berkata apa-apa. Ruangan kecil itu dipenuhi suara-suara cemas, para dokter dan relawan yang sibuk merawat para korban. Di tengah semua itu, aku merasa seperti berada di dunia lain. Dunia yang penuh dengan kekacauan dan ketidakpastian, namun juga dipenuhi dengan orang-orang yang berjuang untuk sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Saat kami duduk menunggu kabar dari Iqbal, aku merenung. Semua yang terjadi hari ini membukakan mataku tentang kenyataan di sekitarku. Mungkin aku bukan seorang pejuang, bukan seseorang yang bisa mengubah dunia. Tapi di bawah langit Jakarta yang kelabu ini, aku tahu bahwa aku tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dalam hidupku sendiri.
Indira menatapku dengan tatapan penuh pengertian. “Kadang, perjuangan itu datang ke kita, Arya. Kita nggak selalu bisa memilih kapan harus terlibat. Tapi ketika saatnya tiba, kita harus berani untuk mengambil langkah.”
Aku tersenyum kecil, merasakan keberanian yang perlahan tumbuh di dalam diriku. Mungkin, meskipun kecil, aku juga bisa membuat perubahan.
(Jakarta, 27 Agustus 2024)
BIODATA
Moehammad Abdoe, lahir di Malang, pelopor komunitas Pemuda Desa Merdeka, penikmat film, sejarah, sastra. Karyanya berupa puisi dan cerpen dimuat di sejumlah surat kabar dan majalah nasional. Buku terbarunya yang segera rilis berjudul “Epiphany di Kerudung Twilight”.