JEMBRANA, Balipolitika.com- Video heboh pelanggaran Nyepi sekitar pukul 21.00 Wita di Jalan Katulampo, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana, tepatnya di sebelah timur Jembatan Sarif Toa menjadi sorotan publik.
Dalam video-video yang beredar tampak warga Kampung Loloan Timur beraktivitas seperti biasa saat Nyepi.
Saat masyarakat Kampung Islam di kabupaten/kota lain menunjukkan toleransi tinggi sekaligus menghormati Catur Brata Penyepian yang dijalani umat Hindu dengan cara tidak meninggalkan pekarangan rumah masing-masing, sebaliknya warga Kampung Loloan Timur malah asyik bersepeda, berkendara motor, bahkan tampak ada aktivitas jual beli.
Dalam video juga tampak masyarakat setempat juga tetap menyalakan lampu sebagaimana hari-hari biasanya.
Merespons video viral tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dapil Bali, Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik atau biasa disingkat Niluh Djelantik berstatement keras.
“Satu hari dalam setahun apakah tidak bisa menahan hawa nafsu? Hari raya Nyepi adalah satu-satunya hari raya yang ada di kalender nasional. Penerapannya wajib di daerah Bali. Semua harus menaati tanpa kecuali. Sesederhana itu memaknai. Di mana bumi dipijak disana langit dijunjung,” tulis Niluh Djelantik, Minggu, 30 Maret 2025.
Di sisi lain, diketahui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jembrana menggelar rapat koordinasi di Rumah Jabatan Bupati Jembrana guna menyikapi pelanggaran Nyepi itu tersebut pada Minggu, 30 Maret 2025.
Ketua Forum Kerukunan Umat BeragamaJembrana, I Wayan Windra mengaku prihatin atas viralnya video tersebut.
Ia menekankan pentingnya menjaga toleransi antarumat beragama dan meminta pihak berwenang untuk mengusut penyebar video yang dianggap provokatif. (bp/ken)