AKTIVASI: Menkebud RI, Dr. Fadli Zon, M.Sc., saat menandatangani prasasti di acara Aktivasi Museum Sarkofagus Bali, Gianyar, Kamis, 27 Februari 2025. (Sumber: Gung Kris)
GIANYAR, Balipolitika.com- Menjadi pertanyaan sebagian besar warganet saat giat Kunjungan Kerja (Kunker) Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Dr. Fadli Zon., M.Sc., menghadiri acara Aktivasi Museum Sarkofagus Bali, diketahui Bupati Gianyar 2025-2030, I Made Agus Mahayastra (Bupati Mahayastra) tidak mendampingi giat Menbud tersebut di Gianyar, Kamis, 27 Februari 2025.
Begitu pula Wakil Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Mayun, juga tidak terlihat nampak mewakili Bupati Mahayastra dalam kunjungan kenegaraan Kemenbud RI dimaksud.
Usut punya usut, kehadiran Bupati dan Wakil Bupati Gianyar diwakili oleh Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) Kabupaten Gianyar, Tjokorda Bagus Lesmana Trisnu, mengaku menyambut baik kehadiran Museum Sarkofagus Bali sebagai destinasi wisata serta wadah edukasi sejarah masyarakat Gianyar.
“Museum Sarkofagus menjadi refleksi untuk melihat Bali jaman dulu, Bali kini dan melihat perjalanan hidup dari masa ke masa,” imbuhnya.
Sejumlah pejabat lain yang terlihat menghadiri acara tersebut diantaranya, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Wilayah XV, I Gusti Agung Artanegara, Ketua Majelis Kebudayaan Bali, Prof. I Made Bandem, Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Abi Kusno serta para anggota Dewan Pengawas Museum dan Cagar Budaya.
Dalam sambutannya, Menbud RI mengatakan, bahwa ada 33 koleksi sarkofagus di Museum Sarkofagus yang dikumpulkan oleh arkeolog senior Indonesia R.P. Soejono Tahun 1958.
Ia mengatakan, sarkofagus-sarkofagus merupakan peninggalan sejarah yang mampu membuka wawasan masyarakat untuk memahami kehidupan, kematian, hubungan dengan alam semesta, dan bahkan sistem sosial prasejarah yang terorganisir.
‘Museum Sarkofagus hadir sebagai pusat edukasi, riset, dan konservasi, agar generasi mendatang dapat memahami dan menghargai jejak panjang peradaban kuno,” ujar Fadli.
Ia juga berharap aktivasi museum Sarkofagus ini dapat membawa narasi peradaban kuno lebih dekat dengan masyarakat.
“Jika temuan ini hanya dibiarkan sebagai artefak statis, maka ia tidak akan hidup, perlu ada edukasi lebih lanjut bagi masyarakat, penelitian mendalam, serta pendekatan yang membuat generasi muda merasa dekat dengan sejarah ini,” tambahnya.
Saat ini Indonesia setidaknya sudah memiliki sebanyak 469 museum, termasuk museum-museum yang dikelola oleh pemerintah pusat, daerah, swasta hingga perorangan. (bp/GK)