TIGA TAHUN setelah aku berhenti kuliah di universitas, aku ke Jakarta. Kali ini bersama ibuku. Rencananya ibuku dengan saudara-saudaranya akan mencarikan aku pekerjaan.
Walau beberapa puisiku sudah dimuat di media-media yang berhonor, keadaanku di kampung tetap saja seperti pengangguran. Honor puisi belumlah mampu topang biaya hidup.
Di kampung, aku bukannya aku tak berusaha mencari kerja lain selain menulis puisi. Hanya saja beberapa pekerjaan yang kudapat kurang pantas bagiku menurut penilaianku. Pekerjaan itu antara lain: tukang angkut barang di sebuah toko p&d, jadi pramusaji di sebuah usaha sate, dan pramusaji di sebuah rumah makan. “Kau kan pernah merantau ke Jawa, sebaiknya cari kerja yang lain,” hanya itu yang dikatakan ibu ketika aku beri tahu pekerjaan apa yang kudapat di kampung.
Karena saudara-saudara ibuku terbilang mapan hidupnya di Jakarta, aku usul kepada ibu untuk minta saudara ibu mencarikan aku pekerjaan atau menerima aku bekerja di tempat mereka.
Walau aku kurang begitu yakin akan rencanaku, karena sebelumnya sewaktu kuliah di Bandung aku pernah berhubungan dengan saudara-saudara ibu, aku tetap kokoh dengan rencanaku. Ibu beberapa kali menesahatiku, sebelum kami berangkat ke Jakarta, agar aku berpikir-pikir ulang atas rencanaku.
“Bukannya kau sudah bisa menulis. Bagaimana sambil menulis kau buka toko kelontong di depan rumah,” kata ibu.
Aku terdiam. Masalahnya, tokonya tak ada. Kalau aku mau buka usaha tentu harus punya modal dulu bikin bangunannya.
“Tidak apa-apa, Bu. Nanti kerja di Jakarta, malamnya aku masih bisa menulis puisi. Lagi pula, kalau mamak atau etek (saudara-saudara ibu) tidak bisa memberiku pekerjaan, kan di Bogor ada Uda Syafril dan Uda Meok,” kataku. “Aku bisa numpang dulu di rumah mereka sampai aku mendapatkan pekerjaan.”
Tak banyak jurus bagiku untuk meyakinkan ibu. Beberepa obrolan saja. Besoknya ibu sudah menelepon Uda Syafril, minta ongkos ke Jakarta.
*
Di Jakarta, di rumah Mamak Siwan, adik laki-laki ibu yang bungsu, setelah saling cerita banyak hal hingga sampai tengah malam. Ibu akhirnya menyatakan maksudnya pergi ke Jakarta. Aku duduk tak jauh dari tempat mereka duduk. Kata ibu kepada Mamak Siwan, bahwa aku tak ada pekerjaan di kampung. Bagaimana aku bekerja di usaha konveksi Mamak Siwan.
Panjang-lebar Mamak Siwan mencerita lika-liku usaha konveksinya. Yang hanya dibalas ibu dengan mengangguk-angguk. Namun, pada akhirnya ia menyatakan, ia sudah lama ingin menutup usaha konveksinya. “Toko online, itu yang aku tidak tahan melawannya,” kata Mamak Siwan setelah menyaksikan ibu begitu mengikuti alur ceritanya.
Sebenarnya wajar ibu atau aku minta pekerjaan kepada Mamak Siwan. Usaha konveksinya lumayan besar. Ia juga punya tiga toko di Pasar Cipulir untuk memasarkan hasil konveksinya. Sindir-menyindir antara ibu dengan Mamak Siwan, dengan halus Mamak Siwan menolak keberadaanku di Jakarta. “Sudah untung dulu dapat kuliah negeri, di Jawa pula, malah keluar,” kata itulah yang mengakhiri obrolan Ibu dan Mamak Siwan malam itu.
Sembari menyuruhku minum teh, Mamak Siwan lantas mencarikan aku siaran sepakbola di tivi.
Dua hari dua malam aku dan ibu di rumah Mamak Siwan. Lantas, kami pergi ke rumah Mamak Eman di Jakarta Pusat. Mamak Eman bekerja sebagai insinyur di sebuah perusahaan besar di Jakarta. Kedua anaknya, laki-laki dan perempuan, kuliah di universitas ternama di Jawa.
Ibu dan adiknya, Mamak Eman, mengobrol di lantai atas. Kadang sekali-kali terdengar juga tawa Mamak Eman ke bawah, ke toko kelontong milik Mamak Eman dan istrinya, yang untuk sementara aku yang jaga. O… ya, selama aku yang jaga toko kelontong di depan rumah Mamak Eman, toko itu ramai. Biasanya toko tidak seramai itu, kata istrinya. Karena ibu memperhatikan aku begitu menikmati jaga toko kelontong, ibu usul ke Mamak Eman. Kata ibu, biar aku tinggal saja di rumah Mamak Eman. Biar aku yang jaga toko kelontongnya. Berapa gajinya, asal dapat makan dan rokok, kata ibu, aku menerima.
Mamak Eman rupanya tidak bisa memberi keputusan usul ibu seorang diri. Malam ketiga kami di rumahnya, Mamak Eman berembuk dengan istrinya. Besoknya hari keempat. Sebelum berangkat kerja, sesudah makan pagi, Mamak Eman beri tahu ibu. Bahwa aku tidak boleh tinggal di rumahnya oleh istrinya. Aku dengar perkataan Mamak Eman itu, di teras, sedang Mamak Eman memakai sepatu dan ibu menemaninya. Alasan istrinya, mereka punya anak perempuan yang sekali seminggu pulang ke rumah. Tak enak rasanya kalau aku bercampur-baur dengannya. Tidak boleh tinggal oleh istrinya termasuk juga aku tidak boleh jaga toko kelontongnya. Toko kelontong itu adalah kegiatan istrinya sehari-hari sembari menjadi ibu rumah tangga.
Lantas, aku dan ibu pergi ke rumah Etek Ros, adik perempuan ibu, di Jakarta Timur. Suami Etek Ros bekerja di luar negeri. Terlihat sangat akrab dan saling melepas kangen ibu dan Etek Ros. Namun, ketika ibu menyebutkan kesusahan-kesusahanku hidup di kampung, Etek Ros segera membalaskan dengan cerita soal banjir di Jakarta. Juga, tentang susahnya sarjana mencari kerja di Jakarta.
“Aku punya uang Rp3 juta,” kata Ibu. “Bagaimana kalau Suwandi kita carikan toko di dekat-dekat sini. Sementara biarlah ia dulu tinggal di rumahmu.”
Etek Ros masih bercerita soal banjir. Susahnya sarjana di Jakarta mencari kerja, dan tipe pemimpin Jakarta yang ideal sembari menceritakan prestasi-prestasi orangnya. Kuperhatikan ibu mengangguk-angguk saja. Memperlihatkan kalau ia mengerti pembicaraan Etek Ros, padahal ibu tidak mengerti politik. Malamnya ibu yang tidur di atas kasur, sementara aku tidur di bawah beralaskan karpet, mengatakan padaku, ”Tidak ada Mamak-mamak dan Etek kau yang menerima kau tinggal di Jakarta ini. Bagaimana kalau besok kita pulang kampung,” kata ibu
Aku mengernyitkan kening. “Kan masih ada Uda Syafril dan Uda Meok di Bogor. Besok kita langsung saja ke rumahnya di Bogor.”
“Dengan mereka ibu tidak yakin. Apalagi kakak kau, Syafril, uangnya terasa cuma-cuma menguliahkanmu dulu karena kau tidak selesai.”
*
Tiba di Bogor sore hari. Uda Syafril yang bekerja di sebuah perusahaan bonafide menyambut ibu penuh haru. Sedang kepada aku, Uda Syafril dingin. Kuumpamakan, Uda Syafril tak berniat menyebut namaku. Ya, ia sama sekali tak menyapaku. Dalam diriku tiba-tiba timbul rasa bersalah yang amat kuat. Karena sudah menyiakan kepercayaan Uda Syafril sewaktu kuliah dulu. Aku kuliah olehnya tak boleh pacaran. Kenyataannya aku pacaran.
Pada suatu pagi istrinya mengusirku sewaktu aku berkunjung ke rumahnya. Kata istrinya kepada Uda Syfril, ia menghidu bau sperma sewaktu aku numpang mencuci baju, celana, dan celana dalam di kamar mandi belakang rumahnya. Aku diusir secara halus. Sementara pacaranku sedang berantakan dan nilai-nilai kuliahku juga tidak memuaskan. Membuat suasana hatiku labil waktu itu.
Uang bulanan dan uang SPP pergi tak tahu arah. Semulai dari istri Uda Syafril mengusirku, aku langsung berpikir untuk meninggalkan tanah Jawa. Aku lantas benar-benar meninggalkan bangku kuliah. Dan kembali ke kampung.
Dengan merantau kedua ini terselip rasa kangenku kepada Via–pacarku dulu. Aku tak tahu statusnya sekarang. Aku ingin aku dan dia reuni.
Setelah mengetahui Uda Meok bekerja pada Uda Syafril sebagai tukang kebun, tak banyak benar ibu membicarakan aku kepada Uda Meok sewaktu di rumahnya. Ketika malam, di sebuah kamar di rumah Uda Meok, aku menanyakan pada ibu. Apakah ada Uda Syafril membicarakan aku.
“Tidak ada,” kata ibu. “Katanya kau kufur nikmat.”
“Apakah ada yang lain, Bu,” kataku.
“Tidak ada.”
Besok aku dan ibu pulang ke kampung. Uda Syafril sudah memesankan kami dua tiket pesawat. Kepada hidupku aku berkata, begitu pelitnya dunia ini, karena tak seorang pun saudara ibu dan kakak mau menerimaku. Ke kampung lagi arah hidup. Sementara saudara-saudara ayah jelas lebih parah dari saudara-saudara ibu perlakuannya terhadap kami di kampung.
Sementara Via, belum sempat aku menanyakan kabarnya. Dan rencanaku untuk tinggal di Jakarta, biar aku bisa bertemu Via, kandas sudah.
“Coba jualan kelontong. Ngontrak toko. Mulai dari yang kecil dulu. Nanti juga sukses,” kata Uda Syafril kepada ibu setelah mengantarkan aku dan ibu ke bandara dengan mobil pribadinya.
BIODATA
Yulputra Noprizal, lahir di Air Haji, 11 November 1985. Penyuka dan penikmat sastra. Tinggal di Air Haji, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat.













