Dan jika kamu menatap cukup lama ke dalam jurang maut,
jurang maut itu juga akan menatap balik ke dalam dirimu. — Friedrich Nietzsche
DI BAWAH langit metropolitan yang sebagian tertutup deretan neon raksasa, kota ini tidak pernah tidur, namun ia telah lama kehilangan jiwanya. Aku berjalan di sepanjang trotoar lebar, mengalir di antara ribuan manusia yang melangkah dalam ritme yang nyaris sama. Mereka adalah bagian dari Simfoni—sebuah tatanan sosial modern yang memastikan tidak ada kerutan dahi, tidak ada nada suara yang sumbang, dan tidak ada konflik. Semua orang tersenyum pada frekuensi yang sama, seolah-olah kebahagiaan adalah sebuah kewajiban kolektif yang telah diprogram dengan matang. Di tengah-tengah gelombang manusia itu, aku merasa seperti satu-satunya sel abnormal di dalam tubuh yang sehat.
Setiap hari, aku memakai Harmoni, sebuah perangkat mikroskopis di belakang telingaku yang mendikte bagaimana aku harus merespons dunia. Saat atasanku memangkas gajiku secara sepihak, perangkat itu memaksaku tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan intonasi yang paling tulus. Bahkan saat pasanganku memutuskan hubungan lewat pesan dengan dingin, sistem membuatku mengangguk anggun, seolah perpisahan hanyalah sebuah keputusan estetik yang biasa saja. Aku terasing di tengah keramaian, merasa menjadi satu-satunya manusia asing yang mesti berpura-pura bahagia, sementara mengira orang lain di sekelilingku benar-benar telah menemukan kedamaian sejati. Kehidupan berjalan seperti mekanisme jam dinding yang sempurna, dan aku hanyalah debu yang tersangkut di antara roda giginya, mati-matian menahan jeritan yang membakar dada agar tidak merusak ketenangan semesta.
Malam ini, rasa keterasingan itu memuncak hingga mencekik leherku, dan aku tidak ingin lagi menjadi manekin penurut yang jiwanya mati di dalam cangkang yang tersenyum. Di sebuah gang gelap yang luput dari pemindaian sensor kota, aku mengeluarkan sebuah pemantik elektromagnetik ilegal yang kubeli dari pasar gelap dan menempelkannya tepat di tempat chip itu tertanam. Rasa sakit yang tajam menghantam kepalaku, diikuti oleh keheningan total yang ganjil saat aliran listriknya berhasil memutus jalinan perangkat dari saraf otakku. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, otot wajahku terbebas dari tarikan otomatis, dan air mata yang selama ini tertahan langsung mengalir deras, membasahi pipiku yang kini terasa dingin. Aku merasa hancur namun bebas, bersiap berjalan kembali ke jalan utama untuk menerima konsekuensi ditangkap sebagai komponen yang rusak.
Dengan langkah gemetar, aku melangkah keluar dari gang gelap menuju alun-alun kota yang padat, menunduk bersiap melihat tatapan ngeri atau penghakiman dari orang-orang karena wajahku yang berantakan oleh tangisan. Namun, begitu aku menginjakkan kaki di bawah lampu jalanan, sesuatu yang mengerikan terjadi secara instan. Seluruh kerumunan mendadak berhenti melangkah, dan senyum simetris di wajah ribuan orang di sekelilingku luluh secara serentak dalam waktu yang sama. Wanita di sekitar co-working space yang tadinya tertawa anggun langsung jatuh berlutut dan menangis histeris, sementara pria-pria berpakaian rapi di seberang jalan mencengkeram kepala mereka, berteriak dalam keputusasaan yang begitu kelam. Kota yang tadinya bergerak dalam kedamaian absolut langsung berubah menjadi lautan penderitaan massal yang mencekam.
Aku terpaku di tempat. Langkah kaki yang tadinya ingin kubuat secepat mungkin untuk bersembunyi kini membeku total. Jeritan-jeritan yang memekakkan telinga itu rasanya sangat familier. Itu adalah gema dari rasa sakit di dadaku yang menyeruak beberapa menit yang lalu. Mereka tidak sedang meratapi nasibnya sendiri. Mereka sedang menyuarakan isi kepalaku yang sesak. “Ada apa ini?” bisikku, namun suaraku langsung lenyap, tenggelam oleh histeria massal yang mendadak meledak.
Di depanku, seorang ibu menjatuhkan kantong belanjaannya begitu saja. Buah-buah apel menggelinding liar di atas aspal, diabaikan oleh pemiliknya yang kini bersujud sambil memukul-mukul tanah dengan putus asa. Di persimpangan jalan, mobil-mobil berhenti mendadak hingga ban mereka mencicit keras. Para pengemudi menyandarkan kepala ke setir, meratap sejadi-jadinya hingga klakson kendaraan mereka berbunyi panjang, bersahut-sahutan seperti kidung kematian yang bising.
Merasakan atmosfer yang kian mencekik, aku melangkah mundur, perlahan menarik diriku kembali ke dalam bayang-bayang gang yang gelap. Anehnya, begitu tubuhku berhenti terpapar cahaya lampu jalan, histeria di alun-alun itu sedikit mereda. Volume jeritan menyusut, seolah-olah ada seseorang yang memutar turun tombol volume pada radio kehidupan.
Aku menatap telapak tanganku yang gemetar. Air mataku masih mengalir deras. Apakah ini karena aku? Apakah duniaku yang hancur telah menular pada mereka?
Demi menguji kegilaan yang absurd ini, aku memejamkan mata erat-erat. Aku menahan napas, mencoba menelan bulat-bulat rasa sakit yang menggerogoti jiwa, lalu secara paksa menarik sudut bibirku ke atas. Aku melempar sebuah senyuman—senyum palsu yang getir, perih, dan paling dusta yang mampu kubuat.
Begitu senyum itu terbentuk di wajahku, sebuah kengerian baru yang lebih gila tercipta di alun-alun. Tangis histeris ribuan orang itu terhenti secara mekanis. Wanita yang tadinya bersujud langsung berdiri tegak. Wajahnya yang basah oleh air mata mendadak kaku, lalu perlahan, bibirnya tertarik sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya. Pria-pria yang mencengkeram kepala kini mulai tertawa.
Namun, itu bukan tawa bahagia. Mata mereka melotot ketakutan, dipenuhi urat darah yang tegang, sementara mulut mereka terus mengeluarkan suara tawa yang sumbang dan melengking. Mereka memantulkanku. Kesadaranku telah membajak emosi mereka secara mutlak.
Tiba-tiba, tawa massal itu mereda menjadi keheningan yang mati. Keheningan yang jauh lebih menakutkan ketimbang jeritan sebelumnya. Ribuan pasang mata yang basah, dengan senyuman lebar yang janggal di wajah mereka, berputar secara serentak. Arah pandang mereka tidak lagi acak. Ribuan orang di alun-alun itu kini menoleh tepat ke arahku, menembus kegelapan gang tempatku bersembunyi.
Dalam kesunyian yang mencekam itu, mereka tidak bergerak. Mereka hanya berdiri membeku, tersenyum lebar dengan mata yang terus mengucurkan air mata, menatapku seolah menanti emosi apa lagi yang akan kuperintahkan kepada tubuh mereka selanjutnya. Namun, kepalaku mendadak dihantam rasa sakit yang luar biasa, seolah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk langsung ke pusat saraf.
Seketika pandanganku kabur. Sorot lampu terang menjadi kian temaram, lalu meredup dengan cepat menjadi sinar remang-remang. Aku mengira harmoni kota runtuh dalam sekejap. Sejurus kemudian aku pun pingsan di ujung gang yang gelap pekat…dan dalam kesendirian.
Dinoyo-Malang, Mei 2026
*penulis tinggal di Malang.










