DENPASAR, Balipolitika.com– Sudah setahun sejak Lomba Tirtanovasi digelar pada 2024 dan kini berbagai ide konservasi air hasil gagasan siswa dan guru telah diterapkan di sekolah-sekolah.
Melalui kegiatan media visit yang diinisiasi oleh IDEP Selaras Alam bersama program Bali Water Protection (BWP), jurnalis diajak melihat bagaimana inovasi yang lahir dari ruang kelas kini telah memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar.
Gerakan dari Sekolah untuk Menjaga Air
Tirtanovasi merupakan bagian dari program Bali Water Protection (BWP) yang dijalankan oleh IDEP Selaras Alam.
Kegiatan ini bertujuan mendorong inovasi konservasi air berbasis sekolah melalui pendekatan partisipatif.
Sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang praktik nyata dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air di Bali.
Lomba Tirtanovasi diselenggarakan pada tahun 2024 untuk mendorong sekolah-sekolah di Bali berinovasi dalam upaya konservasi air.
IDEP Selaras Alam merancang kegiatan ini dengan pendekatan bottom-up dan partisipatif, menjadikan sekolah bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai subyek dan agen perubahan dalam menyelesaikan masalah publik.
“Lomba ini menggunakan pendekatan bottom-up, di mana masyarakat—dalam hal ini sekolah—dilihat bukan sebagai obyek penerima manfaat, melainkan sebagai subyek dan agen perubahan dalam menyelesaikan masalah publik. Kami percaya masyarakat mampu menghasilkan inovasi dan solusi lokal dari, oleh, dan untuk masyarakat. Bukan untuk menggantikan peran negara, tetapi untuk mempercepat penyelesaian masalah dengan menunjukkan potensi inovasi berbasis masyarakat,” ujar Muchamad Awal, Direktur Eksekutif IDEP.
Dari tujuh sekolah peserta, tiga sekolah terpilih sebagai pemenang karena menonjol dalam kreativitas, keberlanjutan, dan relevansi dengan kondisi lokal.
Setelah satu tahun penerapan, berbagai inovasi tersebut telah menunjukkan hasil positif terhadap efisiensi air, penguatan kesadaran lingkungan, dan keterlibatan komunitas sekolah.
Taman MEKAR (Menjaga Kelestarian Air dan Ruang Hidup) Inovasi yang dikembangkan SD Negeri 4 Munduk dinamakan Taman MEKAR (Menjaga Kelestarian Air dan Ruang Hidup).
Sekolah memanfaatkan area halaman untuk membuat taman resapan air yang berfungsi ganda sebagai ruang edukasi lingkungan.
Kegiatan yang dilakukan meliputi penanaman tanaman lokal hemat air, dan pengolahan limbah organik menjadi kompos.
Melalui sistem ini, sekolah melaporkan penurunan genangan air di halaman saat musim hujan, serta meningkatnya partisipasi siswa dalam kegiatan perawatan taman.
Guru memanfaatkan taman ini sebagai sarana pembelajaran tematik tentang ekosistem dan siklus air.
Taman Hujan Sekolah
SD Negeri Besan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung mengembangkan sistem Taman Hujan Sekolah untuk menampung air hujan dari atap ruang kelas dan menyalurkannya ke taman resapan.
Air hasil penampungan dimanfaatkan untuk irigasi kebun sekolah, penyiraman tanaman, serta pemeliharaan fasilitas sanitasi.
Sekolah mencatat efisiensi penggunaan air bersih sebesar sekitar 50 persen dibandingkan sebelum proyek berjalan.
Selain siswa dan guru, kegiatan perawatan taman juga melibatkan komite sekolah dan masyarakat sekitar.
Program ini sekaligus memperkenalkan konsep konservasi air sederhana yang dapat diterapkan di rumah tangga.
Sistem Tower Ganda untuk Daur Ulang Air
SMA Negeri 1 Penebel menerapkan Sistem Tower Ganda, yaitu dua menara air untuk menampung air hujan dan mendaur ulang air limbah cuci tangan.
Air limbah disaring menggunakan lapisan arang, pasir, dan kerikil, lalu dimanfaatkan kembali untuk penyiraman tanaman.
Sistem ini tidak membutuhkan listrik dan dapat dibuat dengan biaya rendah, sehingga mudah direplikasi oleh sekolah lain.
Melalui kegiatan ini, siswa terlibat dalam seluruh proses mulai dari perancangan hingga pemantauan volume air yang digunakan kembali.
Dari Ide ke Aksi Nyata
Laporan dari ketiga sekolah menunjukkan bahwa program Tirtanovasi mendorong perubahan perilaku dalam penggunaan air dan pengelolaan lingkungan sekolah.
Seluruh inovasi yang diterapkan terbukti dapat dijalankan dengan sumber daya lokal dan biaya terjangkau.
Selain dampak teknis, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran siswa dan guru terhadap pentingnya konservasi air serta memperkuat kolaborasi antara sekolah, komite, dan masyarakat sekitar. (bp/ken)













