DENPASAR, Balipolitika.com- Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengonfirmasi posisi Singapura sebagai investor utama bagi perekonomian nasional pada awal tahun ini. Realisasi penanaman modal asing dari Negeri Singa, yang luasnya 1:8 dengan Bali tersebut mencapai angka fantastis yakni sebesar 4,6 miliar dolar Amerika Serikat. Capaian ini memperkokoh dominasi modal tetangga yang terus bertahan dalam daftar teratas penanaman modal asing di tanah air.
“Memang kalau kita lihat selama 10 tahun terakhir ini Singapura konsisten dari segi pencatatannya menjadi negara terbesar FDI ke Indonesia yaitu kurang lebih Rp4,6 miliar dolar AS,” ujar Rosan Roeslani saat konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi, Jakarta, Kamis, 23 April 2026.
Posisi berikutnya dalam daftar investor terbesar ditempati oleh Hong Kong yang mencatatkan nilai investasi sebesar 2,7 miliar dolar AS. Cina menyusul pada urutan ketiga dengan menyuntikkan dana segar ke berbagai sektor industri sebesar 2,2 miliar dolar AS. Amerika Serikat dan Jepang turut melengkapi daftar lima besar dengan kontribusi masing-masing di atas satu miliar dolar AS.
“Peringkat dua hingga lima teratas diisi oleh Hong Kong bersama Cina dengan 2,7 miliar dolar AS, Cina 2,2 miliar dolar AS, Amerika Serikat 1,3 miliar dolar AS, dan Jepang satu miliar dolar AS,” kata Rosan merinci data tersebut.
Pemerintah juga mencatat Jawa Barat masih menjadi magnet utama bagi para investor asing untuk menanamkan modal mereka. Wilayah ini berhasil menyerap investasi asing sebesar 3,1 miliar dolar AS atau setara dengan 20,2 persen total nasional. Pertumbuhan infrastruktur dan kemudahan perizinan menjadi faktor utama yang mendorong para pemodal memilih provinsi di bagian barat Jawa ini.
“Kemudian ada Jakarta dengan 1,9 miliar dolar AS, Sulawesi Tengah 1,8 miliar dolar AS, Maluku Utara 1,3 miliar dolar AS, dan Kepulauan Riau 900 juta dolar AS,” lanjut Rosan menjelaskan sebaran lokasi investasi.
Secara akumulatif, realisasi investasi pada periode Januari hingga Maret 2026 telah menyentuh angka signifikan sebesar Rp498,8 triliun. Angka ini setara dengan 24,4 persen dari total target tahunan yang dipatok pemerintah sebesar Rp2.041,3 triliun. Komposisi antara modal asing dan modal dalam negeri menunjukkan angka yang sangat kompetitif dan menunjukkan stabilitas ekonomi nasional.
“Realisasi investasi kuartal I 2026 tercatat sebesar Rp498,8 triliun atau 24,4 persen dari target investasi 2026 yang sebesar Rp2.041,3 triliun,” papar Rosan kepada awak media.
Investasi asing memberikan kontribusi sebesar Rp250 triliun atau mencapai porsi 50,1 persen dari keseluruhan total modal yang masuk. Sementara itu, pelaku usaha dalam negeri memberikan sumbangsih melalui investasi domestik sebesar Rp248,8 triliun pada periode yang sama. Perbedaan tipis antara kedua jenis modal ini menandakan kepercayaan pelaku usaha lokal tetap terjaga di tengah dinamika global.
“Kontribusi dari PMA maupun PMDN sebenarnya hampir sama, walaupun PMA ini sedikit di atas, kurang lebih Rp250 triliun berbanding Rp248,8 triliun,” ucap pria yang juga menjabat CEO Danantara Indonesia tersebut.
Sebaran lokasi investasi juga menunjukkan tren pemerataan yang cukup positif antara wilayah Pulau Jawa dan Luar Jawa. Investasi di Luar Jawa tercatat mengungguli tipis dengan capaian Rp251,3 triliun atau tumbuh sekitar 6,5 persen secara tahunan. Sementara itu, investasi di Pulau Jawa membukukan angka Rp247,5 triliun dengan pertumbuhan yang jauh lebih agresif mencapai 7,9 persen.
“Kalau kita lihat perbandingannya antara investasi di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa itu juga hampir relatif sama, perbedaannya kurang lebih Rp4 triliun saja,” sambung Rosan mengakhiri penjelasannya.













