PERSEPSI: Dalam unggahannya di Medsos, Politisi asal Bali, Gede Pasek Suardika (GPS) terkesan membandingkan dua karakter kepemimpinan, antara (Kiri) Gubernur Bali, Wayan Koster dengan (kanan) Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait gebrakan atasi masalah sampah. (Ilustrasi: Gung Kris)
DENPASAR, Balipolitika.com – Menarik perhatian publik adanya cuitan dari seorang Politisi Bali, Gede Pasek Suardika (GPS), lewat unggahan di Media Sosial (Medsos) Facebook (FB) akun pribadi miliknya yang terkesan membandingkan antara Gubernur Bali, Wayan Koster, dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, terkait penanganan masalah sampah melalui kebijakan di masing-masing daerah, Kamis, 3 April 2025.
“Ada pemimpin terus turun beri solusi nyata atas berbagai permasalahan ke masyarakat dengan dishare (bagikan, red) ke publik, sehingga diketahui masyarakat luas. Berbagai gebrakan berani dilakukan untuk mengatasi masalah,” tulisnya.
Walaupun GPS tidak secara gamblang menyebutkan nama sosok gubernur (pemimpin) yang dimaksud dalam cuitannya, tetapi dengan lantang ia mengkritisi kebijakan yang diterapkan untuk menuntaskan masalah sampah di Bali, bahkan tak sedikit warganet berkomentar dalam unggahan GPS tersebut.
“Ada juga pemimpin yang terus sibuk buat atau memproduksi surat ini dan itu untuk mengatasi berbagai permasalahan, tanpa kejelasan siapa yang menegakan dan apa sanksi bagi yang melanggar,” lanjutannya.
Jika mengulas apa yang menjadi perbandingan antar dua sosok gubernur tersebut, Dedi Mulyadi dan Wayan Koster, keduanya memang memiliki misi yang sama yakni untuk menyelesaikan permasalahan sampah di provinsi masing-masing.
Namun, berbeda cerita ketika berbicara soal kebijakan yang diterapkan oleh masing-masing pihak dalam cara penanganannya.
Untuk diketahui, Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, selain dikenal dengan aksinya terjun langsung membersihkan sungai dari sampah, baru-baru ini Politisi Partai Gerindra itu membuat gebrakan terkait pengelolaan sampah, dengan menerapkan kebijakan yang mewajibkan siswa-siswi se-Jabar untuk membawa sampah dari rumah ke sekolah untuk didaur ulang.
Dedi Mulyadi menerapkan sistem yang mengharuskan sekolah untuk mengajarkan siswa-siswi nya untuk peduli terhadap lingkungan dengan bijak memilah sampah. Sebagai gantinya, sampah-sampah yang berhasil kelola bisa ditukarkan dengan daging, telur, hingga anak ayam oleh siswa-siswi.
Gebrakan pria yang akrab disapa Kang Dedi ini menuai respon positif di masyarakat, lewat cara ini siswa-siswi bisa lebih menyadari bahwa pengelolaan sampah secara mandiri bisa memberikan manfaat bagi masa depan mereka.
Langkah strategis untuk menyelesaikan permasalahan sampah juga dilakukan Gubernur Bali, Wayan Koster, dengan kebijakan terbarunya mengeluarkan Surat Edaran (SE) Gubernur Bali Nomor 8 Tahun 2025, tentang tatanan bagi pengunjung saat berada di kawasan suci Pura Agung Besakih.
Dalam SE terbarunya, Gubernur dari partai PDIP itu juga melarang pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan pengunjung (pemedek) di Pura Agung Besakih untuk tidak membuang sampah sembarangan, berkewajiban menjaga kebersihan secara mandiri dan wajib mengelola sampah masing-masing berbasis sumber.
Wayan Koster mengatakan di media, dengan dikeluarkannya SE tersebut, keagungan dan kesucian Pura Agung Besakih bisa lebih terjaga kedepan, kebersihannya pun diyakini akan bisa lebih dikelola dengan penuh hormat oleh masyarakat.
“Semua bekerja. Ada bekerja ada juga yang seolah-olah bekerja. Semua pemimpin punya gaya dan cara masing-masing. Pemimpin anda yang tipe bagaimana? Dah gitu aja,” sentil GPS. (bp/GK)