DENPASAR, Balipolitika.com – Memasuki bulan April 2025, umat Hindu di Bali bersiap menyambut Galungan. Setelah usai merayakan hari suci Nyepi Saka 1947.
Tentu saja, persiapan Galungan dan Kuningan harus segera oleh masyarakat Hindu, khususnya yang berada di Bali.
Berikut adalah beberapa hari raya Hindu selama April 2025:
– Buda Wage Warigadean: 2 April 2025
– Hari Bhatara Sri: 4 April 2025
– Anggar Kasih Julungwangi: 8 April 2025
– Purnama: 12 April 2025
Purnama adalah waktu terakhir pada paroh terang, dan waktu awal pada paroh gelap. Oleh sebab itu purnama waktu sakral.
Sebab saat bulan Purnama, Bhatara Parameswara atau Sang Hyang Purusangkara bersama saktinya. Kemudian bersama para dewa, dan bidadari-bidadari serta roh leluhur melakukan yoga.
Demikianlah di dalam lontar Sundarigama. Pada setiap Purnama, diyakini pula Dewa Bulan melakukan yoga. Oleh sebab itu umat Hindu membuat persembahan sesuai kemampuan. Untuk dihaturkan kehadapan para dewa, terutama kepada Dewi Bulan.
– Sugihan Jawa: 17 April 2025
Dalam kitab atau lontar Sundarigama, bahwa pada hari suci Sugihan Jawa, umat Hindu meyakini para dewa dan roh leluhur turun ke dunia membesarkan hati umat manusia. Sembari menikmati persembahan hingga datangnya hari raya Galungan.
Untuk itu, umat Hindu agar membuat upacara arerebon di sanggah ataupun di parhyangan dengan sesajen parerebuan, pangraratan, dan berbagai bunga harum.
– Sugihan Bali: 18 April 2025
Rahina Sukra, Kajeng Kliwon Uwudan, wuku Sungsang Hari suci Sugihan Bali. Hari suci Sugihan Jawa dan Sugihan Bali, oleh umat Hindu sebagai hari suci yang sangat tepat untuk melaksanakan ritual dalam rangka penyucian atau pebersihan bhuana agung, alam semesta (makrokosmos).
Serta penyucian alam manusia sendiri atau bhuana alit(mikrokosmos). Pembersihan atau penyucian bhuana agung dengan cara membersihkan alam dari sampah-sampah, menjaga kelestarian alam dan juga membersihkan palinggih, tempat persembahyangan sehingga tampak bersih dalam rangka akan menghaturkan sesaji.
– Hari Penyekeban: 20 April 2025
– Penyajaan Galungan: 21 April 2025
– Penampahan Galungan: 22 April 2025
– Hari Raya Galungan: 23 April 2025
Dalam kitab Sundarigama, bahwa makna hari raya Galungan umumnya terkait dengan kemenangan Dharma melawan Adharma.
Lontar Sundarigama juga menyarankan bahwa sesajen pada saat Galungan agar njeyer. Maksudnya biar saja di tempat persembahyangan selama semalam. Dan sesajen itu baru bisa lungsur pada besoknya.
Setelah umat Hindu menyucikan diri lahir batin dan melakukan persembahyangan di sanggah. Hari Rabu Kliwon Dungulan yaitu Galungan. Dan disebut hari suci serta sakral, karena umat Hindu meyakini bahwa para dewa dan roh leluhur turun ke dunia beryoga di berbagai tempat.
– Manis Galungan: 24 April 2025
– Pemaridan Guru: 26 April 2025
– Ulihan: 27 April 2025
– Tilem: 27 April 2025
Dalam kitab Sundarigama, masyarakat Hindu Bali sejak dahulu telah mempelajari dan mengetahui bagaimana cara menghadapinya.
Tindakan masyarakat Hindu di Bali zaman dahulu, adalah dengan mengadakan rangkaian upacara sebagai wujud rasa syukur kepada waktu yang telah lampau.
Serta memohon perlindungan dan keselamatan untuk masa yang akan datang. Waktu sakral atau hari suci yang menurut perhitungan terbit dan tenggelamnya bulan, adalah Purnama dan Tilem. Kedua waktu ini (Purnama dan Tilem), adalah sakral karena merupakan waktu peralihan.
Hanya saja ada perbedaan keduanya. Jika Purnama adalah waktu terakhir pada paroh terang dan waktu awal dari paroh gelap.
Maka Tilem adalah waktu berakhirnya paroh gelap dan awal sari peroh terang. Maka saat Tilem, masyarakat Hindu yakin bahwa Dewa Matahari atau Sang Hyang Surya yang beryoga.
– Pemacekan Agung: 28 April 2025
Dalam Sundarigama, bahwa pada saat Soma Kliwon Kuningan Pemacekan Agung. Maka sore harinya wajib masegeh agung di muka halaman rumah serta nyambleh atau menyembelih ayam samalulung (ayam kecil).
Tujuannya menghindari atau menghindarkan diri dari marabahaya oleh Sang Bhuta Galungan. Beserta antek-anteknya atau hambanya.
Oleh sebab itu, makna utama dari Pemacekan Agung adalah mengembalikan Sang Bhuta Galungan beserta para pengikutnya kembali ke asalnya semula.
Kemudian tempat melakukan caru penyambleh ayam samalulung adalah di lebuh atau di pamesuan tatkala Pemacekan Agung.
Lebuh atau pamesuan itu adalah pintu keluar masuk dari jalan raya menuju ke pekarangan rumah. Walaupun biasanya pelaksanaan nyambleh ini sore hari. Namun sisanya bisa sesuai dengan dresta masing-masing desa atau wilayah.
Pemacekan Agung berasal dari kata pacek yang artinya tonggak, inti, pertengahan dan sebagainya. Agung berarti utama, besar, mulia, dan nirmala.
Pemacekan Agung sebagai tonggak atau pertengahan dari awal sampai akhir rangkaian Galungan dan Kuningan.
Serta tujuan nyambleh ayam samalulung ini, adalah suguhan ke hadapan Sang Kala Galungan agar tidak membencanai umatNya. Inilah filosofi spirit dari Pemacekan Agung.
– Buda Paing Kuningan: 30 April 2025
(BP/OKA)