BADUNG, Balipolitika.com- Sejarah Desa Tumbak Bayuh. Setiap desa pasti memiliki latar belakang dan sejarah. Sayangnya, untuk sejarah Desa Tumbak Bayuh belum ditemukan lontar atau prasasti. Kita hanya bisa mengandalkan cerita turun temurun di masyarakat. Cerita lisan ini dipercaya sebagai sejarah kelahirannya. Desa ini menyimpan dua kisah tentang pusaka Raja Mengwi.
Kisah Pertama: Petunjuk Tombak Ayu
Kisah ini terjadi saat I Gusti Agung Putu menjadi Raja Mengwi. Beliau mengutus I Gusti Ngurah Panca. I Gusti Ngurah Panca adalah keturunan I Gusti Ngurah Suna Sakti. Beliau pindah dari Tabanan untuk menetap di Mengwi. Raja menugaskan beliau mengambil tombak di Jimbaran. Saat itu Jimbaran sudah berada di bawah kekuasaan Mengwi.
I Gusti Ngurah Panca pergi bersama anaknya. Beliau juga diikuti banyak pengikut yang setia. Tombak yang diinginkan berhasil didapatkan. Mereka pun kembali ke Mengwi membawa pusaka itu. Dalam perjalanan, mereka beristirahat di tepi Desa Tumbak Bayuh.
Di sana, I Gusti Ngurah Panca mendapat petunjuk. Tombak itu harus diletakkan di areal peristirahatan. Beliau memerintahkan pengikutnya untuk membangun pelinggih. Pelinggih itu disebut Pelinggih Pengeling eling. Lama-kelamaan daerah itu dinamai “Tombak Ayu.” Nama inilah yang menjadi cikal bakal Tumbak Bayuh.
Kisah Kedua: Tombak dari Kayu Bayur Sakti
Ada lagi versi cerita kedua tentang desa ini. I Gusti Agung Munggu adalah Raja Munggu saat itu. Istana beliau dikenal sebagai Puri Mandara. Raja Munggu memiliki prajurit yang sangat sakti. Prajurit itu menggunakan senjata tombak yang unik. Tombak tersebut dibuat dari kayu bayur yang kuat.
Kayu bayur itu diambil dari hutan bayur. Lokasi hutan itu adalah Desa Tumbak Bayuh sekarang. Prajurit berhasil dengan senjata tombak kayu bayur. Karena keberhasilannya, lokasi hutan bayur diberi nama. Daerah itu disebut “Tombak Bayur” yang penuh makna. Nama ini lama-lama berubah ucapan menjadi Tumbak Bayuh. Sejarah Desa Tumbak Bayuh memiliki dua versi legenda pusaka.
Pemekaran Desa dari Buduk
Sebelum menjadi desa definitif, wilayahnya luas. Desa Tumbak Bayuh masih bergabung dalam Desa Buduk. Wilayah Desa Buduk pada saat itu sangatlah luas. Tugas kepala desa pun menjadi sangat kompleks. Jumlah penduduk dari ketiga desa juga berkembang pesat.
Para tokoh desa akhirnya mengusulkan pemekaran. Mereka menginginkan pemisahan wilayah administratif. Pemekaran Desa Buduk terjadi pada 14 Oktober 1997. Desa Buduk dimekarkan menjadi tiga desa resmi. Tiga desa itu adalah Desa Buduk, Desa Persiapan Tumbak Bayuh, dan Desa Persiapan Pererenan.
Setelah memenuhi semua persyaratan. Desa Tumbak Bayuh menjadi desa definitif. Penetapan desa definitif ini terjadi pada 27 Juli 1999. Desa Tumbak Bayuh kini berdiri sebagai desa mandiri. Dua kisah pusaka ini terus hidup di masyarakat. Warisan cerita ini memperkaya identitas Tumbak Bayuh. (BP/CHA).










