Ilustrasi ngaben – Umat Hindu memiliki cara tersendiri dalam upaya menyatukan Atman dan Brahman. Salah satunya dengan upacara Nyegara Gunung.
BALI, Balipolitika.com – Kematian adalah teman tak kasat mata, dari setiap makhluk hidup di dunia, tak terkecuali manusia. Maka dari itu, seharusnya manusia sadar bahwa kematian akan datang kapan saja sesuai dengan takdirnya.
Namun sayangnya manusia tidak bisa menentukan kapan kematiannya. Jika manusia menentukan sendiri kematiannya, maka itu adalah ulah pati dan itu adalah dosa besar. Sebab mengakhiri hidupnya sebelum waktunya.
Ada pula meninggal salah pati, seperti meninggal dunia karena kecelakaan atau dengan cara yang tidak wajar. Banyak sumber yang mengatakan, bahwa manusia yang meninggal salah dan ulah pati maka rohnya akan tersesat.
Untuk itu, dalam Hindu ada beberapa upacara agar roh yang tersesat atau kesasar ini kembali ke jalan yang seharusnya. Upacara tersebut seperti upacara pangulapan. Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda, menjelaskan bahwa roh manusia yang meninggal sangat mungkin tersesat.
“Upacara-upacara keagamaan, seperti ngaben tentu saja membantu proses roh ini menjadi lebih cepat. Namun semua itu kembali ke karmanya masing-masing,” jelas beliau.
Sehingga manusia tidak dapat menentukan, roh tersebut akan segera bereinkarnasi atau tidak. Sebab semua itu adalah rahasia ilahi, tidak ada siapapun yang tahu.
Hal inilah, kata beliau, yang mendasari agar setiap umat manusia bisa menjaga diri dari karma buruk. Sesuai dengan ajaran Tri Kaya Parisudha dan Tri Hita Karana, sebagai upaya dalam mencapai kebahagiaan lahir-batin dan dunia-akhirat.
Semua umat Hindu, memiliki satu cita-cita mulia saat meninggal dunia nanti. Yaitu disebut ‘Mokshartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma’. Atau mencapai moksa, yaitu menyatunya antara Atman dengan Brahman (Tuhan).
Namun tentu saja untuk mencapai moksa ini, bukanlah perkara mudah. Apalagi manusia selama hidup terikat Panca Indria, dan karma.
Sehingga semua itu harus terbayarkan dengan bereinkarnasi kembali. Bahkan bereinkarnasi pun belum tentu menjadi manusia kembali.
Untuk itu, di dalam masyarakat Hindu di Bali khususnya harapan mencapai moksa ini terbantu dengan upacara agama.
Serta membangun palinggih rong tiga (telu), sebagai simbol harapan mencapai moksa. Hal ini kata oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti.
Beliau mengatakan sarana dan prasarana upacara ngelinggihan, dan upacara nilapati adalah sebagai berikut.
Sarana upakara yang diperlukan untuk di kamulan adalah banten pangresikan, diantaranya banten byokawon, banten tatebasan dumenggala, banten tatebasan prayascita, banten pangulapan, Banten lis amu-amuan, ririan.
Kemudian ada pula banten ring sanggah Surya, yakni daksina saha suci, banten pejati asoroh, banten rayunan atau hyunan putih kuning asoroh, canang pasucian, kalungah nyuh gading kinasturi. Lalu ada banten caru tapakan, yakni banten caru ayam putih mulus asoroh, dan banten glar sangah asoroh.
Banten ring arepan Sang Dewa Pitara, adalah banten rayunan putih kuning. Kemudian di merajan khususnya di Kamulan Rong Tiga, adalah banten daksina, saha suci asoroh, banten pejati asoroh, dan hyunan putih kuning asoroh.
Ada pula banten ayaban atau pamereman. Diantaranya, daksina saha suci asoroh. Banten pejati asoroh, banten ayaban tumpeng solas asoroh. Kemudian banten sasayut guru, banten sasayut pemahayu sot. Banten panglebar asoroh dan banten arepan sang pamuput.
“Adapun tatanan (dudonan) acaranya adalah, setelah datang dari ngulapin/ngedetin (nyegara gunung), Dewa Pitara atau Ida Bhatara-bhatari lalu dituntun ke merajan,” sebut beliau.
Sebelum ditempatkan di rong tiga, acara tirta pangresikan dijalankan lebih dahulu. Dengan disiapkan oleh jero mangku, seperti banten byokawon, durmenggala, prayascita, pangulapan, dan lis amu-amu. Setelah itu, ngayaban caru petapakan dan gelar sanga.
Dewa Pitara kalinggihang di rong tiga, tetapi sebelum ditempatkan di rong tiga, Dewa Pitara atau Ida Bhatara-bhatari agar dapat napak atau menginjak caru.
“Daksina sane lanang (laki-laki), ditempatkan di Rong Tiga yang berada di luwanan (kaja) dari palinggih rong yang di luwanan,” jelas beliau. Sementara daksina sang istri, ditempatkan di tebenan atau kelod di rong tiga (tebenan) dari palinggih.
Kemudian tempatkan di hadapan Dewa Pitara atau Ida Bhatara-bhatari, dengan rayunan putih kuning, pejati, suci lan sane tiosan.
“Sesudah Dewa Pitara malinggih dan siap dengan rayunan seperti disebut di atas, maka jero mangku ngayabang banten tumpeng pitu. Yang diikuti atau dibantu oleh Sang Yajamana,” sebut beliau. Setelah itu muspa atau sembahyang.
Kemudian dilanjutkan dengan menghaturkan pedatengan dan sesayut panglebar. Acara nilapati dengan cara mrelina daksina.
“Ada catatan, daksina bisa dipralina langsung pada malam atau hari itu juga. Atau daksina bisa dipralina tiga hari kemudian,” sebut beliau. Mralina daksina ini, lanjut beliau, dengan cara membakar dan daksina atau kelapanya dipecahkan.
Setelah itu abu hasil pembakaran dan daksina yang telah dipecah, ditanam di belakang linggih rong tiga (Pretiwi) dan dijadikan satu. “Setelah mendem atau menanam maka haturkan segehan putih kuning,” sebut beliau.
Dari rangkaian upacara tersebut, terlihat bahwa umat Hindu di Bali sangat berusaha dan ingin mempersatukan atman dengan Brahman melalui upacara yadnya.
Tentunya semua ini sesuai dengan sastra yang ada di lontar suci Hindu. Sehingga atman atau roh orang yang telah meninggal, bisa dikatakan menyatu dengan Sang Pencipta.
Atau dalam istilah Hindu di Bali, dikenal dengan sebutan Amor Ing Acintya. Semua orang menginginkannya, karena dipercaya dengan menyatu bersama Tuhan maka roh akan terlepas dari belenggu ikatan maya atau hal yang bersifat duniawi. (BP/OKA)