SAYA sangat antusias ketika mendapatkan buku antologi cerpen yang ditulis oleh penulis perempuan lintas bidang berjudul “Tanda-Tanda di Langit Kahayan” (2025). Antologi cerpen ini ditulis oleh Angelina Enny, Annastasia Arnellis, Maria Oy, Ata Jo, Fitria Sari, Genta Mahardhika, Griselda Graviella, Indah Ariani, Meta Septalisa, Restu Alamlita, Nina Samidi, Suryani Amin, Suksma Ratri, Dr. Valentina Sagala, Yola C., Yolaratna Kase. Buku yang diterbitkan PBP Publishing ini mengambil stressing point perempuan dan iklim.
Membaca buku ini akan membuat kita melihat dari dua sudut pandang sekaligus: dari nilai sastranya yang kaya makna, dan dari kacamata perempuan yang memandang dunia di sekelilingnya. Cerita-cerita di dalamnya mungkin lahir dari ruang “kecil” kehidupan perempuan, namun justru dari ruang itulah kita dapat melihat betapa besar pengaruh perubahan yang terjadi di dunia. Perempuan sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan dampak perubahan, termasuk perubahan iklim dan dinamika sosial yang menyertainya.
Melalui kisah-kisah sederhana tentang kehidupan sehari-hari, buku ini memperlihatkan bagaimana perempuan beradaptasi dengan berbagai persoalan yang muncul di lingkup domestik mereka—masalah yang ternyata merupakan cerminan dari isu-isu global yang jauh lebih kompleks. Dari “dunia kecil” itulah kita diajak merenungkan persoalan besar yang menuntut kesadaran, empati, dan solusi bersama.
Cerpen dari Arnelis misalnya, berjudul “Sapuan Air”, sangat menarik. Bahasanya mengalir dan dengan lancar menangkap fenomena unik, liris, emosional tentang bagaimana bencana bisa mencerabut tidak hanya hidup bahkan kematian. Setelah manusia mati pun, bencana masih bisa mengusik dengan cara liar seperti yang diceritakan Arnelis lewat cerpennya.
Berbicara tentang perubahan iklim, kita tidak bisa melepaskan diri dari kerangka besar Sustainable Development Goals (SDGs). Agenda 2030 untuk Pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan global yang mendorong transformasi menuju pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan—berlandaskan pada hak asasi manusia, kesetaraan, dan keseimbangan antara aspek sosial, ekonomi, serta lingkungan hidup. Prinsip dasarnya, No One Left Behind, menegaskan komitmen agar tidak ada satu pun individu atau kelompok yang tertinggal dalam proses pembangunan ini.
Jika kita menelaah 17 tujuan SDGs tersebut, sebagian besar sesungguhnya bersentuhan langsung dengan kehidupan domestik perempuan: mulai dari upaya menghapus kelaparan, memastikan akses terhadap air bersih, pendidikan yang layak, pola konsumsi yang bertanggung jawab, hingga pelestarian ekosistem. Dalam konteks itu, cerita-cerita dalam buku ini menjadi sangat relevan.
Dalam cerpen “Perempuan di Tanah Kering” yang ditulis oleh Antonia Maria Oy, perubahan iklim itu bukan lagi isu dan jargon yang disematkan di forum internasional semata, melainkan langsung pada peristiwa yang nyata terjadi. Bagaimana akses air dan masa depan seorang perempuan jadi ajang pertaruhan. Apakah perempuan harus menghabiskan sepanjang hidupnya berjalan puluhan kilometer demi air yang berharga. Sementara perempuan juga punya hak untuk mengenyam pendidikan, melakukan aktualisasi diri, dan meningkatkan kesejahteraannya.
Perempuan sering berada dalam posisi rentan menghadapi efek perubahan iklim karena peran tradisional mereka—seperti mengurus rumah, anak, air, bahan bakar, dan pangan—yang membuat mereka lebih terpengaruh ketika sumber daya menipis atau bencana terjadi. Misalnya, akses air bersih, kesehatan, sanitasi, migrasi dan konflik, serta beban ekonomi menjadi lebih berat bagi perempuan ketika iklim semakin ekstrem.
Bukan dalam arti berlebihan, tetapi melalui kisah-kisah sederhana yang diangkat, kita diajak untuk berefleksi—apakah tujuan-tujuan mulia SDGs benar-benar dapat terwujud, bila perempuan tidak memiliki kekuatan dan ruang untuk “memutar” kehidupan di dunia kecilnya sendiri. Sebab dari ruang yang tampak kecil itulah, denyut perubahan besar sesungguhnya bermula.
Namun tidak semua cerita dalam cerpen ini tentang tugas domestik perempuan saja. Dalam Merajut “Tiga Tali Kisah Perempuan” yang ditulis oleh Ata JO, narasi perusahaan tambang yang abai pada tanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan lingkungan menjadi cerita menarik dan membuka insight baru tentang bagaimana kehidupan di dunia tambang. Dan bagaimana pertambangan yang tidak bertanggung jawab tidak hanya merusak alam tetapi juga abai pada kesehatan dan keselamatan kerja pegawainya, seperti yang dinarasikan dalam cerpen ini.
Dalam cerpen “Kucing Hitam” yang ditulis oleh Fitria Sari, kita bisa melihat bagaimana bencana bisa mengusik rutinitas –suatu bentuk kenyamanan manusia modern. Banjir mungkin hal yang biasa, sampai ia merenggut hal yang paling berharga lalu disebut sebagai bencana. Tak ada jalan keluar, tak ada niat untuk mencari solusinya. Karena banjir seperti rutinitas, seperti terbit matahari di timur dan tenggelam di barat. Banjir diidentifikasi sebagai bencana bilamana rutinitas itu tercerabut dan kepemilikan manusia atas sesuatu yang lebih inferior darinya terenggut.
Yang sering terlupakan adalah perempuan tidak hanya korban, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mitigasi dan adaptasi bencana. Dalam mitigasi, perempuan dapat berkontribusi melalui tindakan sederhana seperti mengurangi penggunaan plastik, menghemat energi, menanam pohon, mengelola sampah, dan mendidik anak tentang lingkungan. Dalam adaptasi, perempuan berperan dalam adaptasi fisik (seperti pelestarian mangrove), adaptasi ekonomi (mendukung ketahanan pangan keluarga), dan adaptasi sosial (melalui kegiatan gotong royong dan dapur umum pasca bencana). Bentuk kontribusi itu juga bisa dilihat dalam penerbitan buku ini.
Dalam esainya The Laugh of the Medusa, Hélène Cixous menyampaikan bahwa perempuan perlu menulis dirinya sendiri—menghadirkan tubuh, pengalaman, dan pikirannya ke dalam tulisan. Namun écriture féminine, atau penulisan feminin, tidak semata-mata tentang seksualitas. Ini adalah ajakan bagi perempuan untuk bersuara dengan bebas, menyampaikan pandangannya tentang dunia, tentang iklim, tentang kehidupan, dari tempat yang paling dekat: dunia kecil tempat ia menghidupi kenyataan sehari-hari. Tidak harus dengan istilah-istilah yang rumit atau bahasa yang menjauhkan, tapi dengan kejujuran dan keberanian yang lahir dari pengalaman yang sangat personal, namun tetap punya daya getar universal.
Membaca buku ini bukan sekadar menikmati cerita, tetapi juga sebuah ajakan untuk memahami dunia dari sudut pandang yang lebih halus dan manusiawi—dari mata seorang perempuan yang berjuang menjaga keseimbangan antara dirinya, keluarganya, dan semesta yang terus berubah di sekelilingnya.
BIODATA
Ni Putu Rastiti lahir di Denpasar, 28 November 1988. Seorang pecinta seni dan penikmat sastra yang sudah menerbitkan buku puisi bertajuk Adakah Namaku Terselip Dalam Doamu? serta buku cerpen bertajuk Pohon Keinginan.













